Solopos Hari ini: Pasar Darurat Sebulan Lagi

Harian Umum Solopos edisi Senin (5/11 - 2018).
05 November 2018 11:00 WIB Ginanjar Saputra Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Dinas Perdagangan (Disdag) Solo butuh waktun sebulan untuk membangun pasar darurat bagi pedagang Pasar Legi yang sebelumnya menempati kios. Kepala Disdag Solo Subagiyo mengatakan proses pembangunan pasar darurat membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Disdag berencana membuat pasar darurat bagi pedagang kios Pasar Legi berupa kios semipermanen di sejumlah ruas jalan yang telah dipetakan. Dia menyebut kurang lebih Disdag membutuhkan waktu sebulan untuk menyelesaikan proses pembangunan pasar darurat tersebut.

Kabar terbaru tentang persiapan pembangunan pasar darurat untuk pedagang Pasar Legi Solo itu menjadi sorotan utama pada Harian Umum Solopos edisi hari ini, Senin (5/11/2018). Berita tersebut bisa dibaca secara lengkap di E-Paper Solopos.

Kabar terbaru tentang tragedi Lion Air JT-610 juga menghiasi halaman utama Harian Umum Solopos edisi hari ini. Investigasi terkait tragedi tersebut terus dikebut agar cepat selesai.

Dunia Menunggu, Investigasi Dikebut

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berkomitmen bekerja cepat dalam investigasi kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP. Investigasi kecelakaan itu dinanti dunia karena melibatkan pesawat terlaris dari Boeing.

KNKT telah merampungkan pengunduhan data flight data recorder (FDR) Lion Air yang jatuh di Tanjung, Karawang, Jawa Barat (Jabar), Senin (29/10/2018), saat melayani rute Jakarta-Pangkalpinang. "Besok [hari ini] pagi mulai analisis, tentu tidak akan selesai satu dua hari apabila parameternya begitu banyak. Apabila ada keanehan dan kerusakan, kami harus lihat lagi data perbaikan. Kami sudah ada data awal apa yang terjadi, tapi analisis masih akan panjang,” kata Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo di Jakarta, Minggu (4/11/2018).

Baca selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya, terdapat kabar utama tentang kekeringan di Kota Solo yang menyebabkan sumur-sumur rawan mengering. Ada pula kabar tentang rencana pembangunan flyover Purwosari Solo yang menjadi sorotan di halaman Soloraya pada Harian Umum Solopos edisi hari ini.

Sumur di 41 Kelurahan Rawan Kering

Sebanyak 41 kelurahan di Kota Solo terancam mengalami krisis air tanah dangkal. Kondisi ini disebabkan banyaknya sumur dalam memengaruhi ketersediaan air tanah dangkal. Hal itulah yang menyebabkan ratusan sumur warga mengering.

Sekretaris Departemen Geologi Fakultas Teknik Geologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Thomas Triadi Putranto, mengatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan Undip bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo pada 2015, tingkat kerentanan air tanah terhadap pemompaan dibagi menjadi lima zona, yakni sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Wali Kota Berkeras Proyek Dimulai 2019

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo optimistis proyek pembangunan flyover Purwosari dapat dilaksanakan tahun depan. Ia tak mau ambil pusing soal informasi dari Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Solo yang menyatakan anggaran senilai Rp170 miliar belum diajukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019.

Rudi mengatakan pernyataan Banggar DPRD tak perlu diperhatikan. Alasannya, proyek pembangunan flyover Purwosari adalah bagian dari proyek strategis nasional sehingga menjadi prioritas pembangunan.

Simak selengkapnya di: E-paper Solopos.