Sebagian Pedagang Pasar Legi Solo Berjualan di Mobil

Mobil dipakai pedagang Pasar Legi Solo untuk berjualan sementara di Jl. Lumban Tobing, Senin (5/11 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
05 November 2018 20:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Berbagai cara dilakukan pedagang Pasar Legi Solo untuk bisa segera kembali berjualan setelah pasar tersebut terbakar pada Senin (29/10/2018) lalu. 

Mereka ingin secepatnya berjualan karena butuh pemasukan guna memenuhi kehidupan sehari-hari. Selain itu, para pedagang ingin mengumpulkan untung guna mengganti kerugian yang diderita akibat kebakaran. 

Karena pasar darurat belum jadi, beberapa pedagang memilih berjualan dengan memanfaatkan mobil. Salah satu di antaranya, Eko Mei Setiawan, 28.

Pedagang sembako asal Gondangrejo, Karanganyar, tersebut memilih berjualan menggunakan mobil karena alasan keamanan. Eko tak berani meninggalkan barang dagangan di sembarang tempat karena rawan hilang dan menganggu aktivitas orang lain. 

Dia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Solo segera menyediakan pasar darurat bagi pedagang Pasar Legi yang menjadi korban kebakaran.

Dia mengeluh tidak bisa leluasa ketika berjualan pakai mobil. Eko mengaku hanya bisa membawa barang dagangan sedikit. Apalagi, mobil yang dia pakai bukanlah bak terbuka. 

Dia berjualan pakai mobil Toyota Avanza warna silver yang selama ini dipakai untuk keperluan sehari-hari. Dia terpaksa melakukan hal itu karena tak punya kendaraan lain. 

Eko keberatan jika harus menyewa mobil bak terbuka untuk dipakai berjualan di sekitar Pasar Legi.

Akibat kebakaran Pasar Legi, Eko mengaku rugi Rp80 juta. Dia dan keluarganya kini mesti berhemat jika ingin tetap bisa berjualan. 

Eko mulai berjualan pakai mobil terhitung sejak Rabu (31/10/2018) lalu. Dia memarkirkan mobilnya di tepi Jl. Lumban Tobing depan Gereja Bethany Indonesia-Solo.

Eko menyebut kerugian lain yang mesti ditanggung pedagang ketika berjualan di mobil, yakni membayar parkir yang nilainya lebih besar ketimbang retribusi kios di Pasar Legi.

"Harapan saya sekarang pemerintah bisa segera membangunkan pasar darurat agar pedagang punya kepastian tempat berjualan pengganti. Kalau sudah ada pasar darurat, barang dagangan pedagang kan jelas, bisa disimpan di sana. Saya terserah saja pemerintah mau membangun pasar daururat di mana," kata Eko saat ditemui Solopos.com di sela-sela aktivitasnya berjualan di mobil, Senin pagi.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Senin pagi, di sekitar Gereja Bethany sedikitya ada delapan mobil yang dipakai berjualan oleh pedagang Pasar Legi. Jumlah itu belum termasuk mobil yang dipakai untuk berjualan di Jl. Lumban Tobing ruas pintu timur Pasar Legi-pintu utara Pasar Legi. 

Salah seorang pedagang yang berjualan di timur Pasar Legi tersebut, Widodo, 46, asal Desa Selokaton, Gondangrejo, Karanganyar. Dia berjualan sembako pakai mobil Suzuki Carry bak terbuka.

Widodo juga berharap pemerintah bisa segera  membuatkan pasar darurat. Dia khawatir sebentar lagi musim penghujan. Barang dagangannya terancam kebasahan ketika hanya disimpan di bak mobil. 

Widodo menyampaikan kerugian lain yang mesti ditanggung pedagang bermobil, yakni membayar retribusi parkir hingga Rp25.000/hari. Namun, dia memaklumi tarikan itu mengingat para petugas parkir jelas kehilangan potensi pendapatan ketika lahan parkir dimanfaatkan pedagang untuk berjualan

"Kalau cuaca mendung, kami langsung bingung dan panik. Barang dagangan bisa basah kalau hujan. Itu kerugian jika berjualan di mobil. Kami berharap sekali segera ada pasar darurat yang layak," jelas Widodo yang mengaku mengalami kerugian hingga Rp300 juta akibat tiga losnya terbakar.