Hari Ini, 196 Desa Sragen Pamer Potensi di Bursa Inovasi

Suasana bursa inovasi desa di Gedung Sasana Manggala Sukowati, Sragen, Senin (5/11 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
05 November 2018 10:20 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sebanyak 196 desa di Bumi Sukowati mengikuti bursa inovasi desa di Gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS) Sragen, Senin (5/11/2018) ini.

Penyelenggara pemerintahan dari 196 desa tersebut bisa belajar dan bertransaksi dalam program inovasi desa yang difasilitasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Sragen itu.

Pameran produk unggulan desa tersebut dibuka Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Kabid Pemberdayaan Masyarakat DPMD Sragen, Nur Aini, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (4/11/2018), menyampaikan banyak usulan inovasi yang masuk ke DPMD.

Semua usulan inovasi tersebut diverifikasi oleh tim sebelum masuk dalam bursa inovasi.

“Targetnya, satu desa satu inovasi. Bursa inovasi desa itu menjadi sarana pembelajaran bagi pemerintah desa. Setiap desa bisa bertukar pengetahuan dan ide kreatif. Desa juga bisa mereplikasi inovasi yang dilakukan desa lain dan disesuaikan dengan potensi desa masing-masing,” ujarnya.

Dia menyampaikan apa pun potensi desanya bisa masuk dalam bursa. Bursa inovasi desa itu tidak hanya dihadiri para kepala desa (kades) tetapi juga anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan tokoh masyarakat.

“Ada petugas desa yang menjelaskan masing-masing inovasi. Nanti ada semacam bilik untuk sama-sama komitmen untuk mereplika dan seterusnya,” tambahnya.

Wakil Bupati (Wabup) Sragen Dedy Endriyatno dalam pengantar program inovasi desa beberapa waktu lalu di Sekretariat Daerah (Setda) Sragen menyampaikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen membutuhkan desa yang melek teknologi dan seorang kades yang visioner sekaligus seorang inovator.

Ketika muncul ide jumlah penduduk dan jumlah orang meninggal bisa diketahui, Wabup menyampaikan ide itu terletak pada desa yang melek teknologi.

“Bagi 164 kades yang masa jabatannya habis pada 2019 diharapkan lebih meningkatkan kinerja agar elektabilitasnya naik. Mari selama setahun ke depan, tunjukkan yang terbaik bagi desa! Gali potensi desa dengan mendatangkan para tokoh masyarakat,” sarannya.

Kades Cepoko Sumberlawang, Sragen, Ngadiman, menyambut baik program inovasi desa itu. Kegiatan itu memang menstimulasi desa untuk berinovasi. Dia mengatakan tidak semua desa memiliki inovasi karena memang tidak memiliki potensi.

“Untuk Cepoko, ada inovasi dengan pembuatan embung dan budidaya bibit unggul pohon kates [pepaya] dan nangka. Kami memiliki tiga embung yang bisa digunakan untuk budidaya ikan,” ujarnya.

Ngadiman sudah meminta bibit pepaya dan nangka masing-masing 1.000 batang. Semua upaya tersebut, kata dia, diserahkan kepada BUM desa.

“Saya sudah mengalokasikan anggaran untuk embung baru senilai Rp200 juta dan Rp100 juta untuk pengembangan BUM desa. Bagi saya no problem kalau tahun depan tidak terpilih lagi,” tuturnya.