Yuk Bikin Sumini Pakai Kaleng Bekas Cat

Sumur resapan mini (sumini) dibangun di RT 005/ RW 003, Kelurahan Jajar. Sumini dibuat dari kaleng bekas cat 5kg. - istimewa
06 November 2018 22:20 WIB Ratih Kartika Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Ketua RT 005/RW 003, Joko Edi Margono, menjelaskan sumini dibuat dengan menggunakan tiga sampai empat kaleng bekas cat 5 kg. Dalam sumini 80 cm diisi ijuk. Sumini tersebut dibuat di pinggir jalan di depan rumahnya, maupun gang-gang buntu di RW tersebut, dan di pinggir Jl. Slamet Riyadi. “[Sumini berfungsi untuk] mengalirkan air hujan daripada dibuang ke parit, lebih baik dimasukkan ke dalam tanah. Agar air fungsinya kembali ke semula bahwa air itu berkah, bukan musibah,” kata Joko, Selasa (6/11/2018).

Sumur tersebut diujicobakan dengan pembuatan sumur resapan yang dibuat dari cor beton di rumahnya. Kemudian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo menyarankan pembuatan sumur resapan dengan memanfaatkan barang-barang bekas. Pembuatan sumur resapan juga dapat membantu warga di bantaran sungai agar banjir berkurang. Sumur resapan juga membuat musim kemarau tidak mengalami kekeringan. “Gang-gang buntu dikasih sumur resapan sebelum di- paving. Ada 10 sumur resapan [yang baru saja selesai dibuat],” kata Joko.

Selain itu, RT tersebut memiliki biopori dan akan dibuatkan biopori kembali di akhir November apabila pendanaan sudah turun. RW 004 Kelurahan Jajar juga tertarik dan meminta sumur resapan untuk dipasang di dekat PLN Jajar. “Sekarang kesadaran warga mulai meningkat. Awalnya kesadaran warga juga berkurang, tapi belakangan kesadaran warga sudah mulai ada dan tertarik untuk dipasangi biopori maupun Sumini,” kata Joko.

Warga tengah menyelesaikan pembuatan sumini di RW 004 dan setelah itu biopori. Dia menghitung apabila kelurahan di Kecamatan Laweyan membuat biopori maupun sumur resapan, air hujan yang terbuang ke Bengawan Solo akan berkurang karena meresap ke dalam tanah. “Kita mulai dari yang kecil,” papar Joko.

Plt. Lurah Jajar, Siti Rokhayah, menilai kepedulian warga di kelurahan tersebut sudah ada. Warga mau membuat biopori maupun sumini. Warga mengetahui manfaatnya sehingga setuju tanahnya dipasangi Sumini maupun biopori. “Karena kepadatan penduduk, akhirnya warga mau dipasangi biopori dan sumini. Itu juga membantu masyarakat,” ujarnya..