Tiang Beton Rel KA Bandara Solo Mulai Dibangun Sejajar Tol Soker

Tiang beton penyangga rel kereta bandara dipasang di sisi selatan tol Solo/Kertosono (Soker) wilayah Ngemplak, Boyolali. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
06 November 2018 14:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Proyek kereta akses Bandara Adi Soemarmo-Stasiun Solo Balapan sudah memasuki tahap pekerjaan fisik. Tiang-tiang beton sebagai penyangga rel mulai dibangun.

Pantauan Solopos.com, belum lama ini, sejumlah tiang beton dibangun di sisi selatan tol Solo-Kertosono (Soker) wilayah Desa Pandeyan ke arah Desa Sawahan, Ngemplak, Boyolali. Tumpukan pasir dan beton mulai terlihat di sekitar jalur truk di pinggiran tol.

Rel kereta bandara menggunakan tiang pancang sehingga jalur rel akan sejajar dengan tol Soker. Anggota Staf Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah, Dandung Iskandar, mengatakan rel yang dibuat melayang dari tanah akan memperkecil risiko kerusakan infrastruktur pertanian.

Selain itu, pemanfaatan tiang beton juga akan menekan biaya pembebasan lahan. Walau begitu, pengoperasian kereta bandara dipastikan molor. "Pastinya lompat tahun tapi belum tahu juga,” imbuh dia ketika dihubungi Solopos.com, pekan lalu.

Pemasangan tiang beton dilakukan seiring proses pembebasan lahan yang belum selesai. Tercatat ada enam desa yang mesti dibebaskan lahannya untuk proyek rel kereta bandara ini.

Enam desa tersebut yakni Ngesrep, Sindon, Dibal, Kismoyoso, Pandeyan, Sawahan, dan Donohudan. Pembebasan lahan sudah tidak menemui kendala berarti.

Sebagian besar musyawarah telah selesai dan warga tinggal menunggu biaya ganti rugi. “Yang belum (musyawarah) tinggal Kismoyoso,” imbuh Dandung.

Kepala Desa Sawahan, Poniman, mengatakan semua warga desanya telah setuju dengan nilai ganti rugi pembebasan lahan. “Sudah beres, tinggal menunggu uang cair, warga tak mempermasalahkan,” kata dia.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Pandeyan, Sukasno. Setelah melewati empat kali musyawarah, pembebasan lahan dinyatakan selesai. “Tinggal tunggu uang saja,” kata dia.

Sementara itu di Desa Donohudan pembayaran dan musyawarah baru mencakup setengah dari jumlah lahan yang dibebaskan. Kepala Desa Donohudan, Sumantinah, sebelumnya mengatakan ada sekitar 21 bidang lahan terdampak rel kereta bandara di desanya.

Sementara di Desa Ngesrep dan Sindon musyawarah dinyatakan beres dan tinggal menunggu pembayaran ganti rugi.