Modal Saling Percaya, Ibu-Ibu di Klaten Bikin Koperasi Kejujuran

Warga membeli barang di koperasi kejujuran Dukuh Mbangan, RT 027/RW 009, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Senin (24/9 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
06 November 2018 09:40 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Bangunan berdinding tripleks itu berada di teras rumah Sarjino, salah satu warga Dukuh Mbangan, RT 027/RW 009, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang Klaten. Di dalamnya, berisi bahan kebutuhan pokok, bumbon, sandal, hingga aneka makanan ringan yang tergantung. Ikan asin menghiasi rak meja. Tumpukan tabung elpiji 3 kg mengisi ruang di depan pintu masuk.

Sekilas, bangunan itu seperti warung pada umumnya. Warga datang membawa uang dan kembali dengan barang yang diinginkan. Tiap kali meninggalkan warung, warga menutup pintu tanpa digembok dan berjalan tenang sembari menenteng aneka barang seperti beras, telur, dan sampo.

Ketika Solopos.com mencoba masuk ke dalam warung, tak satupun orang terlihat di dalam ruangan menunggu pembeli datang. Kamera closed circuit television (CCTV) juga tak menghiasi langit-langit bangunan berukuran 2 meter x 4 meter tersebut.

Hanya terlihat buku folio dan bolpoin tergeletak di etalase. Buku itu berisi catatan nama, jenis barang, dan nominal uang. Tak jauh dari buku folio itu, stoples bening tergeletak sudah dipenuhi uang.

“Setiap kali warga membeli barang itu tinggal memasukkan uang ke dalam stoples dan mengambil kembaliannya sendiri. Kalau mau menimbang beras ya menimbang sendiri. Ini juga sudah ada catatan daftar harga barang. Kalau masih utang, nanti catatannya ditandai kotak. Itu juga menandai sendiri,” kata Sarjino, 40, menyusul Solopos.com ke dalam warung, Senin (23/9/2018).

Warung yang menjadi usaha bersama itu oleh warga setempat diberi nama koperasi kejujuran. Sesuai namanya, aktivitas jual-beli berasaskan saling percaya bahwa setiap pembeli bisa bersikap jujur. Pendirian koperasi kejujuran diinisiasi para ibu rumah tangga yang tinggal di wilayah terdekat puncak Gunung Merapi tersebut. Mereka tergabung dalam kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RT 027 Dukuh Mbangan.

Pendirian warung itu bermula ketika warga pulang dari pengungsian setelah erupsi Merapi 2010 terjadi. Bermodal sisa uang kas Rp140.000, para ibu rumah tangga berinisiatif membeli barang kebutuhan pokok untuk 24 keluarga yang tinggal di RT 027.

“Dari pada kami pinjamkan tetapi tidak merata, akhirnya kami belikan sembako seperti gula 5 kg, teh 1 pax, dan minyak 5 kg. Kemudian kami jual. Pokoke, setiap KK [keluarga] harus membeli. Meski utang, nanti bisa dibayarkan tiap Minggu Pon agar Senin Wage, saat ada pertemuan ibu-ibu 35 hari sekali itu bisa dibelikan barang,” kata ketua PKK RT 027 Dukuh Mbangan, Suprihatin.

Aktivitas membelikan sembako dan dijual kembali ke warga saban 35 hari sekali itu berjalan dua tahun dengan menambah jenis barang kebutuhan pokok berupa beras. Minat warga kian besar hingga aktivitas menjual sembako diganti sepekan sekali hingga berlangsung selama setahun. “Karena barangnya semakin banyak, akhirnya dibuatkan warung di tempat Mbak Mamik [istri Sarjino] sekaligus yang mengelola warung,” urai dia.

Namun, lantaran aktivitas ibu rumah tangga di Dukuh Mbangan yang mayoritas petani hortikultura, mereka tak bisa bergantian menunggu warung. Alhasil, warung dibuat dengan konsep kejujuran warga.

Suprih menjelaskan saban hari ada ibu rumah tangga yang bertugas mengecek catatan pembelian dan hutang serta ketersediaan barang. Ibu rumah tangga yang masih produktif bergiliran kulakan sepekan sekali.

Aktivitas jual beli di koperasi kejujuran selama ini berjalan lancar meski tak pernah ada penunggu warung yang melayani pembeli. Keuntungan yang diperoleh saban hari masih berkisar Rp20.000-Rp25.000. Harga jual barang di koperasi itu lebih miring dibanding warung pada umumnya dengan selisih harga sekitar Rp1.000.

Saat Lebaran tiba, laba koperasi dibagikan merata ke 24 keluarga sebagai sisa hasil usaha (SHU). “SHU itu dalam bentuk camilan untuk Lebaran. Namun, tidak full kami bagikan ke keluarga. Misalkan tahun kemarin setiap keluarga semestinya nominal SHU Rp140.000, namun Rp50.000 dikembalikan sebagai modal. Saat ini, modal koperasi itu Rp5 juta,” kata Suprih.

Tak hanya sembako, aktivitas jual-beli koperasi kini merambah pada kebutuhan pertanian guna mendukung aktivitas para petani perempuan. Suprih menambahkan barang yang dijual di warung itu juga menjadi aset warga ketika mereka harus mengungsi jika terjadi erupsi Merapi. “Pengalaman erupsi sebelumnya itu perempuan hanya duduk-duduk. Suatu saat ketika erupsi kembali terjadi, koperasi ikut diboyong agar anak-anak setiap jajan itu tidak harus ke penjual lain ketika di pengungsian. Dari pada membeli ke orang lain lebih ke warung sendiri,” ungkapnya.