Uji Coba Berhasil, IPA PDAM Jebres & Jurug Solo Beroperasi Lagi

ilustrasi air PDAM. (Solopos/Dok)
07 November 2018 13:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Perumda Air Minum Toya Wening (PDAM) Solo memastikan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jebres dan Jurug kini telah kembali beroperasi.

Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi (PPID) Perumda Air Minum Toya Wening Solo, Bayu Tunggul, menceritakan setelah uji coba, beberapa hari lalu, Perumda Air Minum mendapati hasil pengolahan air baku Sungai Bengawan Solo di IPA Jebres dan Jurug sudah sesuai dengan baku mutu lagi.

Mengetahui hal itu, Perumda lantas kembali mengoperasikan IPA Jebres dan Jurug secara maksimal mulai awal pekan ini. "Sekarang IPA Jebres dan Jurug sudah full beroperasi. Hasilnya bagus kok," kata Bayu saat diwawancarai Solopos.com, Rabu (7/11/2018).

Bayu mengatakan IPA Jebres dan IPA Jurug berhasil mengolah lagi air baku Sungai Bengawan Solo menjadi air bersih layak konsumsi karena polutan pada air baku mulai berkurang.

Selain itu, kapasitas sumber air baku Sungai Bengawan juga naik karena telah terjadi hujan di beberapa daerah. IPA Jebres dan IPA Jurug mampu menghasilkan air bersih hingga 150 liter/detik.

Perumda mencatat kapasitas air itu cukup untuk melayani 12.000-an sambungan rumah. "Yang jelas IPA Jebres maupun Jurug kini bisa kembali mengolah air karena polutan pada air baku Sungai Bengawan Solo sudah agak berkurang, terutama di bau," jelas Bayu.

Bayu mengklaim Perumda Air Minum tak dapat lagi aduan dari pelanggan terkait masalah krisis air setelah IPA Jebres dan Jurug kembali beroperasi. Perumda Air Minum belakangan paling hanya menerima aduan soal debit aliran air di rumah pelanggan yang kecil.

Dia menyebut kondisi itu tergolong wajar mengingat pipa distribusi Perumda Air Minum telah berhari-hari kosong. Perumda Air Minum menyebut butuh waktu untuk dapat mengembalikan tekanan air pada pipa distribusi.

"Sudah nihil kalau soal aduan krisis air. Sekarang paling hanya mengenai pemerataan tekanan karena memang pipa kami kosong berhari-hari," terang Bayu.

Pegiat Komunitas Ngrekso Lepen Mangku Keprabon, Setyo Eko Winanto, menganggap kualitas air di semua sungai di Solo kini sangat memprihatinkan. Secara kasatmata, air sungai di Solo, termasuk Sungai Bengawan Solo terlihat tercemar.

Hal itu bisa dibuktikan dengan warnanya yang hitam pekat hingga berwarna warni. Dia menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bertindak tegas menutup pabrik-pabrik tekstil yang kedapatan membuang limbah sembarangan ke sungai.

Hal itu penting agar ke depan kejadian krisis air akibat Perumda Air Minum Toya Wening tak bisa oleh air baku Sungai Bengawan Solo tak terjadi lagi.

"Setahu saya Pemkot lewat Dinas Lingkungan Hidup pernah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah lain di Soloraya, terutama Sukoharjo untuk membahas penanganan limbah pabrik yang mencemari sungai. Tapi saya lihat action-nya nol," kritik laki-laki yang akrab disapa Pak Win itu.