5 Ton Beras Rojolele Desa Gempol Klaten Dikirim ke UMY

Petani menaikkan beras sehat Rojolele ke dalam truk untuk dikirim ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Senin (24/9 - 2018). (Istimewa/Wahyudi Nasution)
07 November 2018 09:00 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN — Sebanyak lima ton beras rajalele hasil panen perdana pengembangan padi organik di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten dikirim ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (24/9/2018).

Kepala Desa (Kades) Gempol, Nusanta Herlambang, mengatakan pengiriman beras rajalele perdana itu hasil kerja sama dengan Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PD Muhammadiyah Klaten. Beras diproduksi di lahan seluas 8 hektare milik kelompok tani Gempol di bawah binaan Lazismu yang ditanam Januari lalu melalui gerakan Tani Bangkit. Jumlah itu di luar 8,5 hektare padi organik yang lebih dulu dikembangkan Desa Gempol.

“Ini hasil panen musim tanam pertama. Kami kirim ke Jogja atas fasilitasi MEK PDM Klaten,” kata dia, kepada Solopos.com, Selasa (25/9/2018).

Nusanta menjelaskan hasil panen rajalele di wilayahnya terbilang bagus. Tak hanya itu, petani juga terbantu oleh akses pasar produk yang dihasilkan melalui jejaring yang dimiliki Muhammadiyah. Di Gempol, saat ini ada sekitar 17 hektare sawah yang ditanami padi dengan sistem pertanian organik.

“Ke depan, pengembangan padi rajalele di Gempol akan diperluas termasuk perbaikan sistem tanam hingga memperluas pasar beras rajalele Gempol. Semua upaya diharapkan adanya peningkatan kesejahteraan petani Gempol,” terang dia.

Ketua MEK PDM Klaten, Wahyudi Nasution, mengatakan untuk tahap pertama beras sehat rojolele asal Gempol didistribusikan ke UMY. Permintaan perdana ini akan disusul dengan pasokan rutin beras yang sama sebanyak lima ton per bulan. Beras dijual dengan harga Rp15.000 per kilogram (Kg).

“Kalau UMY minta beras dikemas dalam wadah vakum per satu Kg supaya lebih awet. Beras tahan serangan kutu hingga dua tahun. Namun, kemasan ini memiliki harga lebih tinggi Rp17.500 per Kg,” kata Wahyudi.

Ia menargetkan amal usaha Muhammadiyah di sejumlah daerah sebagai pangsa produk-produk organik yang dihasilkan petani. Tak hanya itu, ia juga sedang melakukan pendekatan dengan PKU-PKU termasuk Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai pasar beras sehat rajalele. Produk beras disebut beras sehat lantaran belum besertifikat oganik kendati ditanam dengan prosedur pertanian organik. Butuh proses dua tahun hingga lahan yang ditanami menjadi murni organik.

“Untuk memenuhi permintaan itu kami akan perluas lahan ditanami rajalele organik tak hanya di Gempol tapi di Klaten. Kami terbuka bekerja sama dengan pemerintah atau pihak manapun,” beber dia.

Wahyudi berpendapat ada tiga permasalahan yang dihadapi petani soal pengembangan rojolele organik yakni soal pendampingan, akses modal, dan akses pasar. ()