Desa Ponggok Klaten Kembangkan Aplikasi Desa Pintar

Warga menunjukkan aplikasi desa pintar yang dikembangkan Pemerintah Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Senin (29/10 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
07 November 2018 13:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Pemerintah Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo mengembangkan aplikasi desa pintar. Salah satu fungsi aplikasi itu guna memudahkan urusan administrasi warga setempat.

Kepala Desa Ponggok, Junaedi Mulyono, mengatakan aplikasi dikembangkan selama beberapa waktu terakhir. Aplikasi tersebut bisa diunggah melalui playstore untuk ponsel berbasis Android meski belum dilengkapi seluruh fitur. 

Junaedi mengatakan ada sekitar 33 fitur dalam aplikasi itu. Fitur tersebut di antaranya memuat layanan publik seperti pembuatan KTP, akta kelahiran, serta surat keterangan pindah. Selain itu, terdapat layanan pengaduan. Rencananya, aplikasi dilengkapi dengan informasi keuangan desa serta BUM desa. 

Selain itu, peta digital desa memuat kondisi geografis, potensi, serta data dan informasi masing-masing keluarga akan terintegritasi ke aplikasi tersebut. “Kami meluncurkan peta digital. Satu peta memuat memuat banyak data di dalamnya. Tujuan kami agar di desa itu jangan kalah dengan yang di kota. Menyongsong era revolusi industri 4.0, desa kami sudah siap untuk berinovasi di bidang ilmu dan teknologi,” jelas Junaedi saat berbincang dengan Solopos.com, 29 Oktober 2018.

Junaedi menjelaskan aplikasi itu masih terus dikembangkan. Dengan aplikasi tersebut, berbagai informasi tentang Desa Ponggok termasuk urusan administrasi warga bisa dilakukan hanya dalam genggaman ponsel. “Kami segera selesaikan dan diluncurkan. Mimpi yang lain dari desa kami yakni desa wisata yang terintegrasi berbasis IT,” katanya.

Direktur BUM Desa Tirta Mandiri Desa Ponggok, Joko Winarno, membenarkan dalam aplikasi itu bakal terdapat informasi tentang BUM desa serta berbagai unit usaha yang dikelola. Saat ini, ada sekitar 11 unit usaha yang dikelola BUM desa dengan pendapatan pada 2017 sekitar Rp14,2 miliar. “Melalui peta desa nanti bisa terlihat unit usaha BUM desa itu apa saja dan dimana saja termasuk informasi masing-masing unit usaha,” kata Joko.

Selain informasi tentang unit usaha, Joko menuturkan dalam aplikasi itu juga dilengkapi informasi tentang laporan keuangan desa yang diharapkan bisa tempat belajar bagi pengelola BUM desa lainnya. “Misi pemerintah desa dengan aplikasi ini untuk edukasi versi desa melek IT,” urai dia.