Pria Klaten Ini Pandai Bikin Patung Meski Tak Bisa Melihat

Sartono, 55, dan patung kertas bikinannya di rumahnya, Kampung Sekalekan, Kelurahan Klaten, Klaten Tengah, Senin (5/11 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
07 November 2018 08:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sartono, 55, kehilangan penglihatannya saat masih duduk di bangku SD. Dokter mengatakan syaraf-syaraf penglihatannya mati yang membuat ia tak bisa lagi melihat.

Namun, menjadi tunanetra tak menghalanginya untuk berkarya menjadi pematung kertas. Di sudut rumahnya, aneka patung kertas disimpan.

Ada patung kuda jingkrak warna merah hati. Lalu patung manusia sedang membaca koran lusuh hingga patung anjing menjulurkan lidah.

Di bagian lain, terlihat patung tokoh menyerupai Pangeran Diponegoro berpakaian serbaputih menungganggi kuda hitam.

“Saya memulainya dengan imajinasi. Lalu pakai rasa. Saya selalu begitu saat mulai membikin patung,” ujar Gendut, panggilan akrab Sartono, saat berbincang dengan wartawan di rumahnya, Kampung Sekalekan, Kelurahan Klaten, Klaten Tengah, Senin (5/11/2018).

Walau dipanggil Gendut, Sartono bertubuh ceking. Waktu kecil, badannya memang gemuk hingga ia dipanggil Gendut oleh tetangganya.

Kolaborasi imajinasi dan rasa ini kadang membikin halusinasi. Ia membayangkan patung jadi itu di angan-angan. Biasanya, ia harus meraba-raba seluruh anatomi contoh patung yang ingin dibuat.

Prosesnya didorong oleh tuntutan kebutuhan hidup yang terus memburu. Maka, jadilah patung pesanan pelanggan. “Tapi, kalau mintanya rumit, saya enggak sanggup,” tutur dia.

Gendut menceritakan proses pembuatan patung kertas miliknya. Mula-mula ia membikin kerangka dari anyaman bambu. Kerangka itu lalu dibalut kertas semen yang direkatkan lem kanji.

Tebal-tipis selimut bergantung lekukan dan tonjolan patung. Semakin menonjol, semakin tebal lapisan kertas. Pada bagian paling luar, ia pakai kertas koran agar permukaannya halus.

“Kalau kertas semen supaya kuat, kertas koran untuk finishing saja,” beber pria yang sudah 25 tahun ini menjadi pematung kertas.

Hampir semua jenis patung ia buat mulai dari binatang hingga manusia dengan berbagai kegiatan. Ia juga pernah diminta membuat patung Soekarno, presiden pertama RI, untuk keperluan karnaval.

Ia membayangkan anatomi tubuh termasuk wajah Sukarno di umur saat menjadi presiden. Ia kesulitan membayangkan wajah Soekarno, lalu dipakailah wajah sendiri untuk menjadi acuan.

“Semua pesanan patung, saya selalu kesulitan di wajah,” ujar dia.

Pelanggan setianya adalah seorang mantan kepala desa di Kalikotes. Kades itu sudah tiga kali memesan tiga patung kepadanya. Pesanannya yang terakhir, ia hanya diberi petunjuk agar dibuatkan buatkan patung simbah ngesot memakai caping. “Buat jaga rumah,” kata Gendut menirukan mantan kades itu.

Ia bikin patung itu selama sebulan. Patung jadi dan dipasang di teras rumah sang mantan kades. Sejak patung dipasang, hampir setiap tamu sang kades mengucapkan salam kepada patung itu.

Orang mengira patung itu adalah si tuan rumah. “Mungkin karena saking mirip asli sehingga orang mengira dia pemilik rumah,” timpal Gendut, terkekeh.

Patung bikinan Gendut rata-rata dijual Rp250.00 untuk ukuran besar, Rp75.000 ukuran sedang, dan Rp10.000 untuk ukuran kecil. Ia butuh sebulan untuk membikin patung ukuran besar. “Tapi sejak Lebaran ini masih sepi pesanan.”

Perjalanannya sebagai pematung dimulai saat tetangganya juga membikin patung kertas. Ia tertarik belajar padanya. Namun, ia tak bisa melihat.

Lalu, ia meminta izin untuk meraba-raba semua patung bikinan tetangganya itu. Ia pelajari kerangka dari bambu, isian, hingga permukaan anatomi.

“Sampai sekarang saya masih membuat patung. Saya masih penasaran agar teknik sambungan itu tidak terlihat. Saya belum ketemu caranya,” ujar pria yang pernah jadi tukang batu hingga penjual minyak tanah ini.