162 Inovasi Desa Dipamerkan Dalam BID Wonogiri 2018, Apa Saja? 

Gapura di batas kota Wonogiri. (Solopos/Dok)
07 November 2018 12:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Sebanyak 162 inovasi desa dari seluruh kecamatan di Wonogiri akan ditawarkan dalam Bursa Inovasi Desa (BID) di GOR Purna Bhakti kawasan kota Wonogiri, Kamis (8/11/2018).

Pelaksana mengusung konsep berbeda dibanding gelaran tahun lalu, seperti inovasi disajikan dalam video dan terdapat 11 konsultan yang siap memberi konsultasi terkait banyak hal, termasuk Solopos.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Selasa (6/11/2018), 162 inovasi desa itu tergabung dalam 25 Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) atau tim tingkat kecamatan.

Inovasi tersebut merupakan hasil pengembangan potensi berbagai desa di masing-masing kecamatan. Ada satu desa yang memiliki satu inovasi, tetapi ada pula satu desa mempunyai dua hingga tiga inovasi.

Jumlah inovasi yang dipamerkan tahun ini meningkat 62 inovasi. Tahun lalu pelaksana memamerkan 100 inovasi. Inovasi yang ditawarkan bertambah karena banyak desa yang sebelumnya tak percaya diri merealisasikan program inovasi, tahun ini sudah menjalankannya.

Kabid Pembangunan dan Pemberdayaan Lembaga Kemasyarakatan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Wonogiri, Rujito, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa, mengatakan BID merupakan bagian dari Program Inovasi Desa (PID) Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Anggarannya dari APBN. PID diluncurkan pemerintah pusat untuk mengoptimalkan penggunaan dana desa yang dgelontorkan sejak 2015. Pemerintah menilai penggunaan dana itu di seluruh desa masih terfokus pada pembangunan infrastruktur.

Padahal, pengembangan ekonomi desa dan pemberdayaan masyarakat juga tak kalah penting. Melalui PID yang diaplikasikan dengan BID diharapkan desa dapat menggali potensi masing-masing untuk pengembangan ekonomi desa.

“Pelaksanaan BID tahun lalu memberi pemahaman baru bagi desa. Sudah banyak desa yang mulai menggarap potensi desa, seperti membuat destinasi wisata, mengelola air bersih, dan sebagainya. Namun, tak dimungkiri tak sedikit desa pula yang belum mampu menggali potensi, meski sebenarnya potensi itu ada. Kendalanya, keterbatasan kapasitas SDM,” kata Rujito.

Terpisah, Tenaga Ahli (TA) Program Pembangunan dan Pemberdayaa Masyarakat Desa (P3MD), Hari Sutrisno, mengatakan konsep BID tahun ini sangat berbeda dibanding tahun lalu.

Pelaksanaan tahun ini seluruh TPID wajib menyajikan inovasi dalam bentuk video yang terdiri atas tiga versi, yakni video utama berdurasi maksimal 15 menit untuk ditampilkan di stan, video berdurasi maksimal lima menit untuk diunggah di chanel youtube, dan video berdurasi 1 menit untuk diunggah di Instagram milik masing-masing TPID.

TPID juga harus menyajikan dalam leaflet, poster, dan brosur. Sarana tersebut untuk memudahkan desa-desa mempelajari inovasi desa yang ingin direplikasi.

Selain itu pelaksana menyediakan 11 Pelayanan Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD) atau konsultan, seperti Solopos yang dapat memberi pemahaman tentang cara membuat tulisan untuk mengisi Sistem Informasi Desa (SID), PPRBM Solo akan memberi pemahaman ihwal pemberdayaan difabel, dan sebagainya.

“Setelah melihat banyak inovasi, desa yang belum bisa mengembangkan potensi jadi terinspirasi lalu tergerak melakukan sesuatu. Harapan terbesarnya, mereka sudah memasukkan program pengembangan potensi dalam APB Desa 2019,” ulas Hari.

Berikut contoh 10 inovasi desa yang masuk menu BID Wonogiri 2018:
- Sayur hidroponik, Jendi, Girimarto
- Desa mandiri tanpa beli, Boto, Jatiroto
- Sport Center, Singodutan, Selogiri
- Desa Ekowisata, Conto, Bulukerto
- Batik karya difabel, Pucung, Kismantoro
- Kerajinan wayang kardus, Ngaglik, Bulukerto
- Kampung topeng, Ngandong, Eromoko
- Petani muda, Jimbar, Pracimantoro
- Bank sampah, Wonodadi, Pracimantoro
- Pengembangan batik tulis, Temboro, Karangtengah

Sumber: P3MD Wonogiri