Jatuhnya Paha Gajah Sakti di Asale Dusun Selopukang Wonogiri

Pengendara melintas di perbatasan Dusun Selopukang, Desa Sendang, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Jumat (26/10 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
07 November 2018 14:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Dusun Selopukang, Desa Sendang, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, berada di perbukitan. Letaknya di sisi utara Waduk Gajah Mungkur (WGM).

Warga meyakini ada kisah yang melatarbelakangi penamaan dusun itu. Jika ditilik nama selopukang terdiri atas dua kata bahasa Jawa, yakni selo berarti batu dan pukang bermakna paha.

Jika disatukan lebih kurang batu yang berbentuk paha. Lalu paha apa yang dimaksud?

Salah satu warga, Wardi Bejo, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Jumat (26/10/2018), mengaku tak tahu banyak mengenai cerita yang melatarbelakangi penamaan dusunnya.

Namun, ada cerita rakyat yang berkembang di dusun. Hanya, cerita tersebut belum ada yang membukukan sehingga tak banyak yang tahu kisah sesungguhnya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Sendang, Agung Susanto, menginformasikan ada tokoh pemuda yang pernah menulis cerita rakyat asal usul Dusun Selopukang. Ceritanya tentang pertarungan tiga binatang sakti, yakni naga, gajah, dan buaya.

Namun, dalam kisah tersebut tidak dijelaskan latar belakang ketiga binatang berseteru. Tidak diketahui pula ketiganya hidup pada masa apa, apakah mereka memiliki tuan atau termasuk hewan liar.

Konon, Agung menceritakan dahulu ada naga, gajah, dan buaya raksasa yang berseteru. Suatu ketika ketiganya bertemu dan bertarung sengit.

Pada pertempuran itu masing-masing binatang mengeluarkan kesaktian pada saat yang sama. Akhirnya mereka binasa dengan kondisi tubuh tercerai berai.

Potongan tubuh mereka terlempar jauh. Paha gajah terlempar di sebuah bukit. Dalam waktu yang lama paha itu berubah menjadi batu.

Kemudian orang menamai batu tersebut selopukang, yakni batu yang menyerupai paha. Dusun tempat ditemukannya batu itu diberi nama Selopukang.

Sementara tubuh buaya terlempar ke hutan. Lokasi jatuhnya tubuh buaya sekarang ini bernama Wonoboyo. Wonoboyo terdiri atas dua kata, wono berarti hutan dan boyo berarti buaya.

Wonoboyo merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Wonogiri. Tubuh naga terlempar hingga jauh. Dalam kisah itu saat naga terjatuh di tanah menciptakan sumber air.

Saat ini lokasi itu diberi nama Umbul Naga. Lokasinya di Manyaran, Wonogiri.

“Batu berbentuk paha gajah itu sekarang masih ada di perbukitan di Dusun Selopukang, tepatnya di belakang kafe,” kata Agung.

Meski demikian batu tersebut tak keramat. Belum pernah ada orang yang menggelar ritual di kawasan lokasi batu berada.

Solopos.com berupaya mencari batu itu namun tak menemukan batu yang dimaksud meski sudah mencapai lokasi. Menurut warga batu tidak ditandai dengan apa pun.

Batu yang terdapat di lokasi hanya terlihat permukaannya. Lahan di sekitar batu dijadikan sawah tadah hujan.