Hanya 1 Lantai, Pasar Legi Solo Dibangun Berkonsep Hanggar

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo ikut membantu proses pembangunan pasar darurat bagi pedagang los Pasar legi, Senin (5/11 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
08 November 2018 06:00 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pasar Legi Solo yang terbakar pada Senin (29/10/2018) akan dibangun kembali dengan konsep mirip hanggar pesawat. Nantinya pasar hanya dibangun satu lantai.

Pasar bahan pangan terbesar di Solo seluas 16.640 meter persegi itu juga akan ditata ulang secara menyeluruh pada tahun depan.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan konsep pembangunan Pasar Legi akan dimatangkan dalam penyusunan detail engineering design (DED). DED tersebut secepatnya akan disusun tim ahli dari Pemkot Solo.

“Yang jelas bangunannya dibuat seperti hanggar. Ini bakal menjadi pasar dengan model hanggar pertama di Jawa Tengah,” katanya ketika berbincang dengan wartawan di Balai Kota, Rabu (7/11/2018).

Bentuk hanggar dinilai lebih nyaman untuk pedagang dan pembeli. Aktivitas pasar tradisional bagi pasar induk terbesar di Kota Bengawan ini akan terlihat semuanya.

Selain itu sirkulasi udara jauh lebih baik, serta tempat berdagang luas. Sistem kontrol keamanan dan kerawanan saat bencana juga lebih terjaga.

Kasus kebakaran Pasar Legi akan menjadi pembelajaran bagi Pemkot dalam menyusun konsep bangunan pasar tersebut.

“Banyaknya sekat-sekat seng membuat penanganan kebakaran sulit dilakukan. Kalau dibuat hanggar itu keamanannya lebih baik,” katanya.

Modelnya menurut orang nomor satu di lingkungan Pemkot ini adalah bangunan pasar akan dibangun satu lantai. Tidak lagi dua lantai sebagaimana kondisi pasar saat sebelum terbakar.

Selain membangun pasar permanen, Pemkot juga akan menata kawasan tersebut. Secara keseluruhan luas lahan Pasar Legi yang bakal ditata mencapai 16.640 meter persegi.

Perincian, 12.125 meter persegi untuk bangunan pasar dan sisanya lahan parkir dan bongkar muat barang. “Luas bangunan pasar hampir sama lah dengan pasar yang sekarang ada,” katanya.

Nantinya bangunan pasar berbentuk hanggar akan menampung seluruh pedagang yang jumlahnya mencapai 2.000-an. Sebelum pembangunan, Pemkot akan lebih dulu membongkar bangunan Pasar Legi.

Proses penghapusan aset segera dikerjakan. Pedagang juga akan dilibatkan dalam rencana pembangunan pasar tersebut. “Kami tidak akan melangkah sendiri, tetap melibatkan pedagang,” katanya.

Ketua Komisi III DPRD Kota Solo Honda Hendarto mengatakan skema yang disusun Pemkot Solo bersama Badan Anggaran (Banggar) DPRD telah rampung. Pembangunan pasar darurat Pasar Legi tetap menggunakan anggaran tak terduga sebesar Rp 1,2 miliar.

Angka tersebut sudah pasti cair dan bisa digunakan saat ini. Sementara untuk pembangunan Pasar Legi, Pemkot menggunakan sumber anggaran lain.

“Kami apresiasi Pak Wali Kota yang bergerak cepat untuk menyelesaikan persoalan Pasar Legi ini. Setelah urusan anggaran pasar darurat rampung, kita cari untuk penyusunan DED. Kami sebagai anggota Banggar juga berkomunikasi dengan OPD terkait agar melakukan efisiensi di sejumlah pos,” kata Honda.

Politikus PDI Perjuangan itu menyebut anggaran untuk menyelesaikan DED sekitar Rp200 juta hingga Rp350 juta. Untuk itu, Pemkot harus merasionalisasi APBD 2019 di beberapa OPD.

Hal itu wajib dilakukan jika benar-benar ingin membangun Pasar legi tahun depan. Masa lelang DED diperkirakan membutuhkan waktu tiga bulan.

Jika tidak ada kendala yang berarti, pada Maret 2019 DED Pasar Legi akan selesai. Setelah itu tahapan yang akan dilaksanakan adalah pembangunan Pasar Legi.

Honda pun memastikan anggaran pembangunan pasar sudah berhasil didapat, yakni dana Rp 30 miliar yang sebelumnya digunakan sebagai cadangan pembangunan Pasar Klewer Timur.

“Sehari setelah kebakaran, wali kota langsung menghubungi Kementerian PUPR agar Pasar Klewer Timur dibangun dengan anggaran kementerian. Saat itu juga kementerian memastikan untuk membiayai sehingga cadangan Rp30 miliar APBD bisa untuk Pasar Legi. Nanti kekurangannya kami minta ke Pak Gubernur,” jelasnya.