Jalan Layang di Tanggul Bengawan Solo Gagal Dibangun, Ini Penyebabnya

Foto aerial simpang susun Adiwerna ruas Tol Pejagan-Pemalang di Tegal, Jawa Tengah, Jumat (18/5 - 2018). (Antara / Hafidz Mubarak A)
09 November 2018 17:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemkot Solo gagal mewujudkan rencananya membangun jalan lingkar layang di tanggul Sungai Bengawan Solo.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tak menyetujui rencana itu. Sebagai gantinya, jalan lingkar timur selatan bakal dibangun melintasi wilayah Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, atau sebelah timur Bengawan Solo.

Kepala Seksi (Kasi) Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Solo, Joko Supriyanto, mengatakan pembangunan jalan layang di atas tanggul Bengawan Solo yang digagas Pemkot sejak 2014 tidak direkomendasikan oleh Kementerian PUPR.

“Kementerian tidak merekomendasikan dibangun jalan layang di atas tanggul, jadi dialihkan ke pembangunan jalan lingkar timur selatan, melewati Mojolaban,” kata dia ketika dijumpai wartawan di Balai Kota, Jumat (9/11/2018).

Wacana pembangunan jalan layang di atas tanggul mengemuka sebagai solusi mengurai kepadatan arus lalu lintas di wilayah Solo bagian selatan. Selama ini Solo bagian selatan tidak memiliki jalan lingkar atau ring road.

Ketiadaan jalan lingkar penghubung sisi timur dan selatan menyebabkan kendaraan berat melintas di beberapa ruas jalan utama sekaligus menjadi jalan lingkar dalam (inner ring road).

Saat ini, ruas jalan yang digunakan sebagai inner ring road di antaranya Jl. Ir. Juanda, Jl. Kapten Mulyadi, Jl. Veteran, Jl. Bhayangkara, dan Jl. dr. Radjiman.

Ruas jalan tersebut selalu dipadati berbagai kendaraan, termasuk kendaraan berat. Guna mengatasi solusi ini, kajian studi terkait pembangunan jalan lingkar timur selatan mulai dilakukan.

“Kementerian PUPR menyatakan jalan lingkar timur selatan Solo ini layak dibangun,” kata Joko.

Tidak hanya melewati wilayah Mojolaban, merujuk kajian jalan lingkar timur selatan Solo juga akan menyasar Kecamatan Grogol dan Baki. Jalan Lingkar tersebut nantinya bertemu dengan jalan raya Jogja-Solo di sebelah selatan Markas Grup II Kandang Menjangan Kartasura.

Kajian ini selanjutnya akan ditindaklanjuti dalam penyusunan detail engineering design (DED). Pembangunan jalan lingkar ini dinilai akan menguntungkan bagi Solo, karena kendaraan berat tidak akan melintas tengah kota.

“Sebenarnya kalau itu ada ya permasalahan lalu lintas di dalam kota terurai,” katanya.

Tidak hanya Solo yang menuai keuntungan, Kabupaten Sukoharjo juga mendapat manfaat sama. Bahkan kendaraan berat dari Sukoharjo tidak akan lagi melintas di pusat kawasan bisnis di Solo Baru.

Saat ini komunikasi terus dilakukan Pemkot dengan Kementerian PUPR agar jalan lingkar tersebut bisa terealisasi. Namun, menurutnya Pemkab Sukoharjo masih lamban merespons rencana pembangunan jalan lingkar ini.

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BPPPD) Solo Ahyani sebelumnya mengatakan pembangunan jalan lingkar digagas melihat proyeksi volume lalu lintas hingga lima tahun ke depan bakal mengalami peningkatan hingga 50%.

Hal itu perlu diantisipasi dengan pengalihan pergerakan arus lalu lintas. Salah satu upayanya dengan membangun jalur lingkar.

“Rencana jalan lingkar timur-selatan baru kajian awal dan kami masih menunggu tindak lanjutnya,” kata Ahyani.

Ahyani menyebut dari hasil prastudi kelayakan, ada tiga alternatif rute jalan lingkar. Alternatif pertama masuk rute jalan lingkar timur-selatan Solo dari jalan raya Solo-Jogja, tepatnya di selatan Markas Kopassus Kandang Menjangan.

Kawasan tersebut masuk wilayah Kecamatan Gatak, kemudian melewati kecamatan Baki, Grogol, dan melintas di atas tanggul Sungai Bengawan Solo. “Pintu keluar langsung di Jembatan Jurug berbatasan dengan Karanganyar,” jelasnya.

Sedangkan alternatif rute kedua sama, akses masuk jalan lingkar dari jalan raya Solo-Jogja Gatak, melewati Baki, Grogol, Mojolaban, Jaten, dan keluar di simpang Palur, Karanganyar.

Alternatif ketiga akses masuk dimulai dari jalan raya Solo-Jogja di Gatak, kemudian melewati Baki, Grogol, Mojolaban, Jaten, Sroyo dan keluar di persimpangan ring road utara Karanganyar.

“Jadi alternatif-alternatif rute dan kajian awal sudah ada, namun masih perlu didalami lagi,” katanya.