Peracik Teh Ginastel Karanganyar Mbah Loso Tutup Usia

Wedangan Mbah Loso Karanganyar yang terkenal dengan teh ginastel. (Solopos/Ponco Suseno)
09 November 2018 20:15 WIB Ponco Suseno Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Tak jauh dari Rumah Dinas Bupati Karanganyar tepatnya di timur Buk Siwaluh pusat kota kabupaten tersebut ada satu warung wedangan yang terkenal legi (manis) panas dan kenthel (kenal) atau disingkat ginastel.

Kalangan pencinta teh di Karanganyar dan sekitarnya sudah tak asing lagi dengan istilah ginastel maupun warung yang menjualnya yakni Wedangan Mbah Loso.

Sesuai namanya, warung itu adalah milik Mbah Loso. Mbah Loso pula yang meracik teh terkenal tersebut. Namun, para pencinta teh takkan bisa lagi menikmati teh racikan perempuan tersebut.

Tepat pada Jumat (9/11/2018) pukul 02.50 WIB, peracik teh itu telah berpulang ke Tuhan Yang Maha Esa karena sakit. Mbah Loso yang bernama lengkap Wiji Atmo Pawiro Loso meninggalkan empat anak dan enam cucu.

Mbah Loso putri meninggal dunia menyusul Mbah Loso kakung yang meninggal dunia beberapa tahun lalu. Mbah Loso mulai membuka wedangan pada 1960-an.

“Sebelum meninggal dunia, saya sudah diberi tahu tentang resep membuat teh ginastel. Mbah juga cerita ke semua anak dan cucu-cucunya. Nanti, usaha wedangan saya teruskan. Mbah selalu bilang, warung wedangan harus tetap dibuka terus. Wedangan mbah ini ora nyugihi tapi nguripi,” kata salah satu cucu Mbah Loso, Aji Surya Pamungkas, 23, saat ditemui Solopos.com, di rumah duka, Ngloji RT 002/RW 004, Karanganyar, Jumat.

Sejak Mbah Loso putri sakit karena terjatuh saat Lebaran 2018, Aji sudah aktif membuka wedangan. Selain mengandalkan teh ginastel, Aji juga mengandalkan wedang jahe yang disangrai dan dipresto sebelum disajikan ke pelanggan.

“Teh yang diracik itu ada tiga jenis. Teh itu saya jadikan satu. Lalu diseduh dengan air panas dan dicampur gula. Biasanya, satu kilogram gula dapat dipakai membuat teh sampai 30 gelas. Setiap membuka wedangan, saya bisa menghabiskan sembilan kilogram gula,” katanya.

Istilah teh ginastel bikinan Mbah Loso sekarang banyak ditiru wedangan atau angkringan lain di Soloraya dan sekitarnya. Meski begitu, teh ginastel Mbah Loso tetap memiliki pangsa pasar tersendiri.

Cita rasa teh racikan Mbah Loso tetap memikat lidah para pencinta teh di Karanganyar dan sekitarnya. Pencinta teh ginastel bikinan Mbah Loso tak hanya dari kalangan masyarakat biasa.

Kalangan pejabat seperti bupati, wakil bupati, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar, tokoh masyarakat, dan tokoh agama di Bumi Intanpari juga menjadi penggemarnya.

Wedangan Mbah Loso buka setiap hari mulai pukul 13.00 WIB-23.00 WIB. Banyak yang datang ke wedangan itu hanya karena ingin menikmati teh ginastel.

Kepala Kelurahan Karanganyar, Sumardi, mengatakan turut berduka cita atas meninggalnya Mbah Loso. “Atas nama pemerintah kelurahan, saya nderek kecalan [ikut kehilangan],” katanya.

Salah satu warga Karanganyar, Sarwanto, mengatakan Mbah Loso dikenal orang atau pun pencinta teh di Bumi Intanpari karena ginastelnya.

“Istilah teh ginastel itu juga dari sini. Tehnya memang mantap. Banyak yang suka,” katanya.