Mengerem Banjir dengan Biopori, Bagaimana Caranya?

Kader harmoni belajar membuat lubang resapan biopori di Taman Harmoni RT 006, Dusun Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Kamis (8/11/2018). - Sri Sumi Handayani
09 November 2018 21:14 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Sejumlah kader taman dan lingkungan Yayasan Harmoni berkumpul di Taman Harmoni RT 006/RW 002, Dusun Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Kamis (8/11/2018) sore. Mereka berbekal pipa ukuran empat dim sepanjang 15 sentimeter (cm), bor biopori, dan tutup pipa. Mereka hendak belajar membuat lubang resapan biopori dari ahlinya.

Yayasan Harmoni mengundang Ketua Proklim Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Suryono Arief. Dia menjelaskan cara menggunakan bor biopori dan hal teknis lainnya. Kader harmoni membuat dua lubang biopori di taman. Mereka menjebol lantai taman yang tertutup semen.

Tiga puluh menit kemudian, dua lubang biopori sedalam satu meter sudah jadi. Suryono melanjutkan penjelasan cara mengisi lubang menggunakan sampah organik. Sampah sayuran, buah, dan sisa makanan lebih dianjurkan ketimbang dedaunan kering. Alasannya adalah sampah rumah tangga itu lebih cepat terurai mikroorganisme tanah.

"Keberhasilan pembuatan lubang biopori ada di kontrol. Jangan sampai lubang tertimbun tanah dan tidak tahu. Butuh ketelatenan," kata Suryono saat menjelaskan kepada kader harmoni.

Suryono melanjutkan penjelasan tentang sejumlah fungsi biopori. Salah satu fungsi adalah persiapan musim penghujan. Lubang biopori sebagai upaya menampung, menyimpan, dan menambah cadangan air tanah serta dapat mengurangi genangan air ketika hujan.

"Cadangan air dalam tanah dan bisa dimanfaatkan saat musim kemarau mendatang. Kalau sekarang penghujan, bisa mengurangi banjir. Fungsi lain adalah menangani sampah organik," jelas dia.

Sampah organik yang sudah diurai mikroorganisme akan menjadi pupuk kompos. Sampah organik akan menghasilkan nutrisi pada tanaman. Satu lubang biopori bisa menampung satu liter sampah organik. Pada tanah seluas 100 meter persegi bisa digunakan membuat 25-30 lubang biopori.

"Nah kembali ke kesadaran. Apakah mau memisahkan sampah organik rumah tangga untuk dimasukkan lubang biopori? Ini juga menumbuhkan kesadaran memanfaatkan sampah. Harapan saya ini [Dusun Karangkidul] menjadi kampung percontohan," tutur dia.

Salah satu kader harmoni, Sunardi, menyampaikan komitmen membuat lubang biopori. Dia menuturkan warga di Dusun Karangkidul kesulitan air saat musim kemarau. Dia berharap langkah awal pembuatan lubang biopori ini bisa mengurangi dampak saat kemarau tahun depan.

"Ini bermanfaat untuk kami. Saat penghujan tahun ini kami menabung air. Ilmu ini akan kami tularkan kepada teman, saudara, dan tetangga. Supaya berguna untuk lingkungan," tutur Sunardi saat berbincang dengan Solopos.com.

Yayasan Harmoni merekrut warga Dusun Karangkidul menjadi kader harmoni. Mereka memiliki program kegiatan. Tujuan akhir adalah membuat kampung harmoni dengan prinsip Berseritera (bersih, sehat, rapi, indah, dan sejahtera). Sejumlah kegiatan adalah pengelolaan bank sampah, pemanfaatan sampah menjadi barang yang bernilai ekonomi, pembuatan taman harmoni, pemanfaatan pekarangan rumah, pembuatan bibit sayur, dan lain-lain.

"Besar harapan kami pemerintah memberikan dukungan. Bukan uang lelah tetapi dukungan dari warga, pemerintah untuk mewujudkan cita-cita menjadi kampung wisata yang asri."