Gara-Gara Demit, Warga Pegunungan Ngambarsari Wonogiri Bisa Internetan

Maket atau model pengelolaan Internet di Desa Ngambarsari, Karangtengah, Wonogiri dipamerkan di BID 2018, Kamis (8/11 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
09 November 2018 13:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Warga di wilayah perkotaan Wonogiri sudah bisa menikmati layanan Internet sejak sekitar satu dekade lalu. Namun tidak demikian halnya dengan warga di pegunungan wilayah Kecamatan Karangtengah yang berbatasan dengan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Warga Desa Ngambarsari, Karangtengah, misalnya, baru satu tahun terakhir ini bisa menikmati Internet. Hal itu berkat upaya inovasi yang dilakukan pemerintah desa (pemdes) melalui Badan Usaha Milik (BUM) Desa.

Inovasi itu diakui muncul dari persoalan yang dihadapi warga desa, yakni susah mengakses Internet. Sejak dulu, Ngambarsari masuk kawasan blank spot atau tak terjangkau sinyal Internet lantaran konturnya yang berbukit-bukit.

Pengelolaan Internet di Ngambarsari merupakan satu dari 162 inovasi yang disuguhkan dalam Bursa Inovasi Desa (BID) 2018 di Gedung Purna Bhakti kompleks GOR Giri Mandala kawasan kota, Kamis (8/11/2018).

Invosi desa yang disuguhkan Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Karangtengah menyita perhatian. Tak sedikit perangkat desa yang menanyakan latar belakang dan cara pengelolaan Internet di wilayah itu.

Program yang diberi nama Desa Melek Internet dan Teknologi (Demit) tersebut dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Sari Barokah Ngambarsari.

Ketua BUM Desa Sari Barokah, Suyarno, mengatakan unit usaha pengelolaan Internet mulai dijalankan dalam kurun waktu kurang dari setahun setelah BUM Desa berdiri pertengahan 2017.

Ide itu dicetuskan dari kondisi yang selama ini dihadapi. Sejak dahulu warga susah mengakses Internet.

Awalnya, BUM Desa mengelola Internet yang bersumber dari Internet milik desa. Namun, kecepatan akses Internet saat itu tak bisa maksimal.

Kemudian BUM Desa berlangganan Internet Indihome dengan kapasitas kecepatan 20 mega byte per second (mbps). Biaya langganan Rp420.000/bulan.

Memancarkan sinyal Internet tak bisa langsung ke Ngambarsari. Alhasil, BUM Desa harus membangun pemancar setinggi 4 meter di salah satu lahan warga di perbukitan di Kecamatan Batuwarno.

BUM Desa juga membangun penangkap dan pemancar sinyal setinggi 6 meter di Bukit Selo Belah. Seiring berjalannya waktu pengelola membangun penangkap dan pemancar sinyal setinggi 12 meter di area kantor desa.

Belum lama ini pengelola membangun infrastruktur serupa setinggi 25 meter di Bukit Sumbing. Modal untuk pengadaan insfrastruktur pendukung dan sambungan Internet Indihome senilai Rp20 juta yang diambil dari dana penyertaan modal 2018 senilai Rp50 juta.

“Sampai sekarang kami punya 30 pelanggan yang terdiri atas warga, perkantoran, dan sekolah. Pelanggan tersebar di lima desa, yakni Ngambarsari, Temboro, Karangtengah, Jeblogan, dan Purwoharjo. Cakupan area pelanggan akan kami perluas lagi agar bisa melayani lebih banyak pelanggan. Untuk itu kami akan meningkatkan kapasitas kecepatan Internet,” kata Suyarno mewakili Kades Ngambarsari, Fitri Hanani.

Pengelola menyiapkan empat paket Internet unlimited bagi pelanggan, yakni Rp100.000/bulan untuk Internet berkecepatan 2 mbps, Rp150.000/bulan 2,5 mbs, Rp200.000/bulan 3 mbps, dan Rp300.000/bulan 4 mbps.

Biaya pemasangan senilai Rp1 juta-Rp2 juta tergantung kondisi geografis. Biaya itu bisa diangsur sesuai kesepakatan.

Sarana yang dibutuhkan seperti alat penangkap sinyal seperti parabola kecil, repeater, dan kabel. Pendapatan BUM desa dari usaha itu mencapai Rp2 juta/bulan.

Pendamping Desa Kecamatan Karangtengah, Mustaghfiri, mengagumi inovasi Ngambarsari. Inovasi itu sangat tepat untuk menjawab tantangan di desa.

Dia juga mengapresiasi pengelola BUM Desa Sari Barokah yang bisa menjalankan usaha meski awalnya tanpa modal.