Tembok Pagar TSTJ Solo Sepanjang 40 Meter Roboh

Pekerja mendirikan pagar sementara setelah tembok pembatas roboh di TSTJ, Solo, Minggu (11/11 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
11 November 2018 16:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Tembok pagar keliling Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Jebres, Solo, di bagian depan sisi timur roboh, Sabtu (10/11/2018) malam.

Tembok sepanjang 40 meter dengan ketinggian 3,3 meter itu roboh lantaran kondisi bangunan sudah tua dan rapuh. Tidak ada korban dalam kejadian tersebut.

Direktur Utama Perumda TSTJ Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengatakan saat kejadian, kawasan TSTJ tengah diguyur hujan deras sejak sore hari.

“Malam harinya sekitar pukul 19.00 WIB tembok ambruk, untungnya tidak mengenai bangunan di sekitarnya,” Ungkap Bimo ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu (11/11/2018).

Bimo mengatakan bangunan pagar tersebut ambruk karena sudah rapuh termakan usia. Lokasi ambruknya pagar berada di lahan pengembangan kawasan Bengawan Solo Park, tepatnya di bagian depan TSTJ dan dekat dengan pintu keluar sisi timur.

Atas kondisi ini, Perumda langsung berkoordinasi dengan PT Warna Bhuana Indonesia (WBI) selaku investor Bengawan Solo Park untuk pembangunan pagar sementara berupa seng.

“Tadi pagi kami langsung membuat pagar pakai seng karena lokasinya berada di bagian depan TSTJ,” katanya.

Bimo mengakui tembok keliling TSTJ rawan ambruk. Utamanya tembok pagar di bagian barat atau berada di Jl. K.H. Masykur dan bagian selatan atau depan kebun bintang tersebut.

Bangunan tembok keliling TSTJ dibangun sejak 1980-an dan hingga kini belum pernah diperbaiki. Kondisi ini mengakibatkan bangunan pagar tersebut rawan ambruk.

Bahkan pagar sepanjang 50 meter tak jauh dari bekas tempat pembuangan sementara (TPS) Jurug sebelumnya juga telah ambruk.

Perumda berencana membangun ulang pagar keliling di bagian barat dan depan TSTJ. Namun pembangunan pagar menunggu penataan kawasan Jl. K.H. Masykur yang dikerjakan Pemkot rampung lebih dulu.

Sesuai konsep setelah mensterilkan jalan dari aktivitas pedagang kaki lima (PKL), Pemkot berencana memperbaiki sistem drainase dan membangun jalur pedestrian di bekas lapak tersebut.

“Nah kami tunggu pemkot selesaikan pembangunan drainasenya. Baru nanti kami kerjakan pembangunan pagar keliling bagian barat dan selatan,” katanya.

Bimo mengatakan pembangunan tembok keliling mendesak direalisasikan. Selain rawan roboh, keamanan satwa koleksi di kebun binatang kebanggaan Wong Solo itu juga terancam.

Di mana tinggi tembok pagar keliling saat ini hanya 2,5 meter. Padahal idealnya tinggi tembok adalah empat meter. Minimal nantinya tembok keliling TSTJ sama seperti Taman Balekambang sehingga dari luar terlihat bersih dan rapi.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan penataan PKL di sepanjang Jl. K.H. Masykur dilakukan sekaligus salah satu upaya untuk pengembangan kawasan TSTJ ke depan. “Kita tata dulu kawasan sana drainasenya dan trotoar. Jadi harus steril dari PKL,” katanya.