Ini Saran Menko PMK Puan Maharani bagi Penerima Bantuan PKH

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani memberikan sambutan pada acara silaturahmi dan penyerahan bantuan sosial di Pendopo Ageng kompleks Alun-Alun Kidul, Sabtu (10/11 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
11 November 2018 06:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mendorong penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di Boyolali untuk memiliki usaha sendiri.

Menurut Puan, hal itu bisa dilakukan dengan langkah kecil dan bertahap menggunakan sebagian uang bantuan PKH.

“Dalam pertemuan kelompok masyarakat, kalau masih mungkin, cobalah bikin makanan kecil lalu dijual di kelompok itu. Hasilnya ditabung sampai punya warung sendiri,” ujar Puan pada acara silaturahmi dan penyerahan bantuan sosial kepada masyarakat Boyolali di Pendopo AgengKkompleks Alun-alun Kidul Boyolali, Sabtu (10/11/2018).

Melalui PKH yang merupakan salah satu program pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan, diharapkan para penerimanya bisa terbantu keluar dari kemiskinan, terlebih bisa sejahtera.

“Berusaha untuk jangan minta, bagaimana jadi mandiri. Karena tujuan pemerintah ke depan penerima dapat sejahtera,” imbuh Puan.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Puan juga menyerahkan bansos PKH, Kartu Indonesia Pintar (KIP), bantuan pendidikan, bantuan ibu hamil dan balita, serta bantuan lainnya kepada masyarakat.

Sebelumnya, Kementerian Sosial berencana menaikkan PKH pada 2019 dengan nominal minimal Rp2 juta dan maksimal Rp3,5 juta untuk setiap keluarga. Hal tersebut disampaikan Idrus Marham sewaktu masih menjabat Menteri Sosial saat berada di Boyolali dalam acara Dialog Nasional 13 "Indonesia Maju" di Balai Sidang Mahesa Boyolali, Juni 2018.

“Saat ini PKH yang diberikan sekitar Rp1.890.000 per keluarga. Kami [pemerintah] ingin menaikkan menjadi minimal Rp2 juta dan maksimal Rp3,5 juta per keluarga. Sistemnya nanti nonflat atau tidak rata. Yang diterima keluarga tergantung bebannya. Semakin berat beban ditanggung semakin besar bantuan yang diberikan,” ujar dia.