Uang Kompensasi Proyek KA Bandara untuk Warga Boyolali Dibayarkan

Warga berdatangan ke Balai Desa Ngesrep, Ngemplak, Boyolali, Kamis (8/11 - 2018) untuk mengambil uang ganti rugi pembebasan lahan terdampak rel KA Bandara. (Solopos / Nadia Lutfiana Mawarni)
11 November 2018 20:24 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Uang kompensasi pembebasan lahan terdampak proyek Kereta Api (KA) Bandara Adi Soemarmo-Stasiun Solo Balapan mulai dibayarkan, Kamis (8/11/2018). Pembayaran tahap pertama ini dilakukan untuk warga Desa Ngesrep dan Desa Sindon. Pemberian ganti rugi untuk lahan di dua desa terdampak ini dipusatkan di Balai Desa Ngesrep.

Pantauan reporter Solopos.com Nadia Lutfiana Mawarni, Kamis, puluhan warga tampak memadati balai desa dengan membawa sejumlah syarat, seperti KTP, KK, dan surat pernyataan. Turut hadir dalam pembayaran tersebut perwakilan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Boyolali, perwakilan Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah, perangkat kedua desa, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Kereta Bandara, dan perwakilan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Kasi Pengadaan Tanah BPN Boyolali, Wiradya Agung Utama, menjelaskan di wilayah Ngesrep ada 24 bidang tanah dan di Desa Sindon 13 bidang tanah. Semuanya memakan biaya Rp8,8 miliar. Sementara itu, pembayaran kompensasi dilanjutkan pada Kamis siang di Desa Pandeyan. Di desa tersebut ada 46 bidang tanah dengan total nilai kompensasi Rp4,6 miliar.

Agung menambahkan sebelum sampai pada tahap pembayaran kompensasi, BPN bersama stakeholders telah melakukan sejumlah tahapan. Dimulai pada 2013 lalu dengan penetapan lokasi pengadaan tanah. Kemudian BPN melaksanakan inventarisasi dan identifikasi penguasaan atas tanah, penilaian ganti kerugian oleh tim appraisal, musyawarah penetapan nilai ganti rugi, dan pemberian ganti kerugian.

“Semua proses untuk wilayah Boyolali berjalan dengan relatif kondusif dan tidak ada kendala berarti,” imbuh dia ketika berbincang dengan wartawan di sela-sela pemberian ganti rugi. Sebagai informasi, rel KA Bandara akan dibuat sepanjang 13 km mulai Stasiun Solo Balapan hingga Bandara Adi Soemarmo.

Rel ini menjangkau satu kelurahan di Kota Bengawan, yaitu Kadipiro dan tujuh desa di Kecamatan Ngemplak. Rel sepanjang 3 km dari Solo Balapan hingga Kadipiro akan memanfaatkan rel existing yang difungsikan kembali. Sementara 10 km sisanya akan menggunakan rel baru dengan sistem melayang. Total ada sekitar 420 bidang pengadaan tanah dengan luas kira-kira 13,3 hektare. Saat ini, imbuh Agung, realisasi pembebasan lahan sudah mencapai 183 bidang, meliputi 100 bidang di Kota Bengawan dan 83 bidang di Ngemplak.

Sementara itu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Proyek Rel KA Bandara, Yurisal, mengatakan pembebasan lahan di Boyolali masih menyisakan pekerjaan rumah di empat desa tersisa, yaitu Sawahan, Donohudan, Dibal, dan Kismoyoso. “Pada dasarnya semua proses telah berjalan secara parsial di desa masing-masing dan tinggal menunggu giliran pembayaran,” kata Yurisal.

Namun, di Desa Kismoyoso musyawarah masih tersendat. “Di Kismoyoso appraisal masih bekerja,” imbuhnya. Yurisal menargetkan akhir 2018 nanti semua proses kompensasi rampung agar KA Bandara tetap bisa beroperasi pada awal tahun depan. Dia memperkirakan di kawasan Ngemplak pembayaran kompensasi lahan bakal memakan biaya hingga Rp130 miliar dengan harga tanah tertinggi ada di Desa Sawahan. Di desa tersebut, lahan sawah bisa dihargai Rp1,8 juta/m2.