27% Tanggul Bengawan Solo Rusak, Ini Penyebabnya

Rumah warga Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, bertahan di tengah proyek parapet Bengawan Solo. (Solopos/Hijriyah Al Wakhidah)
13 November 2018 17:20 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) memetakan 27 persen dari total 310 kilometer (km) panjang tanggul Sungai Bengawan Solo dalam kondisi rusak. Selain faktor usia, kerusakan tanggul sungai Bengawan Solo terjadi karena ulah manusia yakni digunakan untuk bangunan rumah dan tanaman liar.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSBS Nova Dorma Sirait mengatakan kerusakan tanggul terbanyak terjadi pada bangunan tanggul berupa gundukan tanah. Kerusakan tersebut masih tergolong rusak sedang.

“Rata-rata tanggul tanah rusak karena usianya memang tua. Dibangun tahun 1970-1980-an,” ungkap dia ketika meninjau bantaran Sungai Bengawan Solo di kawasan Jembatan Mojo, Semanggi, Solo, Selasa (13/11/2018).

BBWSBS memetakan beberapa faktor penyebab kerusakan tanggul di antaranya banyak berdiri bangunan dengan memanfaatkan tanggul itu sendiri. Selain itu warga menanam tanaman di area tanggul yang berupa gundukan tanah.

Berbagai upaya pun dilakukan BBWSBS untuk mengatasi kerusakan tanggul tersebut. Salah satunya memperbaiki dan mengembalikan kondisi tanggul seperti semula. Pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah daerah (Pemda) untuk menertibkan bangunan di tanggul.

“Kalau tanggul-tanggul ini tidak diperbaiki dengan segera, maka rawan terjadi bencana. Seperti tanggul jebol dan lainnya,” kata Nova Dorma Sirait.

Dia mengatakan pemantauan tanggul terus ditingkatkan melalui petugas-petugas Operasi dan Pemeliharaan (OP) Sungai yang diterjunkan BBWSBS dari hulu hingga hilir aliran Sungai Bengawan Solo. Secara keseluruhan jumlah petugas OP Sungai tercatat ada 360 orang. 

“Dalam rangka musim hujan ini kita sudah bentuk Satgas banjir ada di hulu dan hilir,” katanya.

Di singgung ihwal ancaman banjir di Kota Solo akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo, menurut dia, dapat diminimalisasi dengan dibangunkannya parapet yang membentang dari Gulon, Jebres hingga Joyosuran.

Pembangunan parapet Sungai Bengawan Solo dari Gulon, Jebres hingga Joyosuran dikerjakan secara multiyears sejak 2016 hingga 2018. Selain parapet juga digunakan untuk membangun tujuh rumah dan pompa air di sepanjang parapet tersebut. Dengan kapasitas pompa air disiapkan adalah 250-500 liter per detik.

Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KKP) Solo, Heru Sunardi mengatakan Pemkot mempercepat proses penyelesaian program relokasi warga bantaran.

Dia mengatakan penyelesaian relokasi di bantaran Sungai Bengawan Solo masih terhambat beberapa pemilik bangunan berstatus hak milik (HM) yang belum menyepakati nilai ganti rugi lahan dan bangunan. Namun kini besaran nilai ganti rugi bangunan dihitung oleh tim appresial per meter perseginya plus nilai penyusutan.

“Jadi tidak sama seperti dulu nilai ganti rugi bangunan flat Rp8,5 juta, tapi nanti dihitung per meter persegi dan nilai penyusutannya,” ungkap dia.