Tradisi Nginang di Pembukaan Sekaten Solo

Pengunjung mengunyah kinang di acara tradisi nabuh gamelan Sekaten di kompleks Masjid Agung Keraton Solo, Selasa (13/11 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
14 November 2018 11:15 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dua gamelan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari, sudah dikirab ke Masjid Agung dan dibunyikan yang menandai dimulainya acara Sekaten 2018, Selasa (13/11/2018).

Sejumlah pengunjung di Sekaten Solo percaya adanya berkah dari setiap prosesi tradisi Keraton Solo ini. Selain berebut janur kuning, ada juga yang mengikuti prosesi nginang (mengunyah daun sirih) dan makan telur asin khas Sekaten.

Ratusan pengunjung terlihat sangat antusias menyambut gamelan ditabuh. Banyak pengunjung yang sudah memadati kawasan Masjid Agung Solo, mereka ramai-ramai langsung nginang sejak pagi.

Para pedagang berjejer rapi di kawasan Masjid Agung menjajakan daun sirih dan ubo rampenya untuk nginang. Banyak yang beranggapan dengan menginang saat gamelan ditabuh bisa membuat awet muda dan diberi umur panjang.

Kinang tersebut terdiri dari daun sirih, injet, tembakau, bunga kantil. Salah satu pengunjung, Wulansih, 68, yang mengikuti tradisi menginang percaya dengan menginang bisa membuat orang awet muda dan mendapatkan berkah.

Apalagi nginangnya sambil mendengarkan bunyi gamelan. “Supados awet enom lan tansah sehat [supaya awet muda dan selalu sehat], kita harus nguri-uri tradisi zaman dulu. Konon jika datang ke sini bisa awet muda. Orang-orang jika berhasil mengambil roncean bunga melati bisa selamat dan bisa bertemu sekaten tahun depan,” ujarnya kepada Solopos.com, Selasa.

Saat gamelan dibunyikan, Wulansih mulai menginang. Dia tampak menikmati alunan gending yang dibawakan sambil sesekali memakan potongan telur asin yang dibawanya.

Wulansih berdoa sambil menginang meminta agar panjang umur dan selalu sehat. “Tidak pahit jika sering ngunyah kinang ini, saya berdoa agar saya sehat selalu dan saya panjang umur,” ujarnya.

Wanita asal Delanggu, Klaten, ini sering mengunjungi Masjid Agung saat ada acara. Dia tak pernah melewatkan sekalipun tradisi itu setiap tahun.

“Saya tadi beli kinang Rp5.000 ini dapat banyak. Ini jadi ajang ritual tahunan saya selama saya masih hidup. Semenjak ditinggal suami, saya selalu mengunjungi Masjid Agung sewaktu Keraton Solo mengirab gamelan ke Masjid Agung,” ujarnya.

Wulansih menginap di rumah anaknya di kawasan Baluwarti agar bisa menyaksikan acara ini. “Anakku wedok omahe cedak mung Baluwarti [Rumah anak perempuan saya dekat, hanya di daerah Baluwarti]," ujarnya.

Pedagang kinang, Lastri, 61, mengaku senang dagangannya laku. Wanita asal Klaten ini menjajakan jualannya tepat di pintu masuk Masjid Agung. "Laris-laris,” ujarnya sambil menepuk-nepuk uang di tangannya.

Lastri mengatakan satu tangkup kinang dia jual sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 tergantung permintaan pengunjung. “Nek sak tangkup [Kalau satu tangkup] Rp2.000, tetapi banyak pengunjung yang beli kasih uang Rp5.000 saya layani,” ujarnya.