9 Pengidap HIV/AIDS Sragen Meninggal Dunia

Ilustrasi kanker (Solopos/Whisnupaksa Kridangkara)
14 November 2018 13:40 WIB Kurniawan Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sragen mencatat ada sembilang orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang meninggal dunia sejak awal Januari hingga akhir September 2018.

Jika dirata-rata, ada satu ODHA yang meninggal per bulannya. Sedangkan mengenai kasus baru, KPA Sragen menemukan ada 163 kasus baru HIV/AIDS di Kabupaten Sragen.

Angka tersebut terdiri 113 kasus infeksi HIV dan 50 kasus AIDS. Sedangkan jumlah kumulatif HIV/AIDS Sragen saat ini tercatat 942 kasus.

Jumlah itu sedikit berbeda dengan data Pemprov Jateng yang mencatat 951 kasus HIV/AIDS di Sragen.

Koordinator Pengelola Program KPA Sragen, Wahyudi, mengaku ada sedikit perbedaan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS Sragen. Tapi menurut dia hal itu sebagai sesuatu yang biasa.

"Sebetulnya semua data resmi. Tapi kadang memang ada gap data antara provinsi dengan kabupaten. Kami pakainya data yang 942 kasus," tutur dia kepada Solopos.com, Rabu (13/11/2018).

Menurut Wahyudi, 942 kasus adalah angka kumulatif temuan HIV/AIDS sejak tahun 2000. Dari jumlah itu sekitar 117 ODHA dilaporkan meninggal dunia kurun waktu beberapa tahun terakhir.

"Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS Sragen dari tahun 2000 hingga sekarang menduduki peringkat kedua terbanyak di Soloraya. Sedangkan di Jateng berada di urutan kesepuluh," kata dia.

Wahyudi menjelaskan jumlah kasus HIV/AIDS Sragen baru sekitar 59 persen dari total kasus hasil prediksi Kementerian Kesehatan. Diduga masih ada ODHA yang belum terdeteksi.

Tapi persentase temuan kasus HIV/AIDS Sragen sudah lebih tinggi dari data Pemprov Jateng. "Kalau persentase temuan kasus Jateng kan baru di kisaran angka 47 persen," imbuh dia.

Wahyudi mengajak warga Sragen menghentikan stigma negatif dan sikap diskriminatif terhadap ODHA. Warga juga diminta peduli terhadap kesehatan diri dengan rutin cek kesehatan.

"Juga jangan lupa hindari perilaku berisiko seperti pergaulan bebas, seks bebas, dan menggunakan narkoba. Tak ketinggalan paling penting tingkatkan iman dan takwa," sambung dia.

Seruan senada dilontarkan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sragen, Moch. Fadlan, Rabu. Menurut dia, keluarga mestinya menjadi benteng utama dari berbagai ancaman termasuk ancaman penyakit menular berbahaya seperti HIV/AIDS.

"Kita mulai dari sekup terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Bentengi anak-anak kita dari berbagai ancaman," tutur dia.