Antisipasi Banjir, Sungai di Klaten Diawasi CCTV

Salah satu bendungan Kali Dengkeng di Desa Talang, Kecamatan Bayat, Klaten. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
14 November 2018 16:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten memasang kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV) di bantaran sungai untuk mengantisipasi banjir pada musim penghujan.

Ada tiga kamera CCTV yang dipasang untuk memantau ketinggian air sungai. Ketiga kamera CCTV itu salah satunya dipasang di tepi Kali Merah, Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno.

Sungai tersebut merupakan pertemuan antara aliran air dari sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi serta sungai yang airnya dari perbukitan Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Kamera CCTV lainnya dipasang di tepi Kali Dengkeng masing-masing berada di Jembatan Jalen, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, dan Bendungan Talang, Desa Talang, Kecamatan Bayat.

Pemasangan ketiga kamera CCTV tersebut untuk memantau perkembangan ketinggian air sungai yang selama ini kerap meluap ketika memasuki musim penghujan. Dari pantauan tersebut, antisipasi potensi banjir bisa dilakukan sejak dini.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan ada dua kamera CCTV baru sementara satu CCTV lama dipindahkan lokasinya. Pemasangan kamera CCTV baru menggunakan alokasi dana APBD Perubahan 2018.

“Kamera CCTV lama di Kragilan kami pindahkan ke Jembatan Jalen. Sementara CCTV baru dipasang di Kragilan dan satu lagi di Bendungan Talang menggantikan CCTV lama yang sudah rusak,” kata Haris saat ditemui di Kecamatan Karangnongko, Selasa (13/11/2018).

Kamera CCTV terkoneksi dengan komputer yang ada di Pusdalops BPBD Klaten sehingga bisa terpantau sewaktu-waktu. Aplikasi untuk memantau rekaman video ketiga kamera itu juga disiapkan serta bisa diunduh warga.

“Video kamera CCTV itu bisa diakses siapa pun dan bisa diakses di mana pun,” ungkapnya.

Selain menyiapkan kamera CCTV, Haris mengatakan surat keputusan bupati tentang status siaga darurat banjir disusun. Selain itu, BPBD segera menggelar rapat koordinasi pada pekan depan dengan melibatkan seluruh camat dan sukarelawan.

Rapat koordinasi juga untuk mengaktifkan posko lapangan siaga bencana banjir, tanah longsor, serta angin di setiap kecamatan terutama di daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor.

Haris menjelaskan berdasarkan perkiraan dari BMKG, intensitas hujan meningkat mulai pekan ketiga November. “Perkiraannya itu di Klaten mulai sering turun hujan pada dasa kedua yakni 20 November,” urai dia.

Terkait daerah rawan banjir dan tanah longsor, Haris mengatakan selama ini kerap terjadi di desa-desa di tepi Kali Dengkeng serta anak sungainya. Ia mencontohkan seperti banjir pada akhir 2017 lalu akibat luapan Kali Dengkeng dan anak sungainya yang menyebabkan banjir di sejumlah perkampungan di Kecamatan Gantiwarno, Wedi, Bayat, Cawas, serta Trucuk.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Bambang Giyanto, mengatakan potensi angin ribut bisa terjadi sewaktu-waktu terutama saat memasuki musim hujan.

“Potensi itu tidak hanya di awal musim hujan tetapi bisa saja terjadi di pertengahan musim hujan. Imbauan kami kalau sekiranya ada pohon yang dahannya tidak kuat lagi menahan kencangnya angin segera dipangkas,” katanya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Jaka Sawaldi, mengatakan masih ada tanggul Kali Dengkeng dan anak Sungai Bengawan Solo yang kondisinya berupa tanah serta rawan jebol.

“Warga yang berada di aliran sungai terutama rawan luapan dan banjir saya harapkan ikut menjaga kebersihan sungai,” katanya.