Penanganan Banjir Solo: Relokasi Warga Tak Semulus Pelaksanaan Proyek

Warga melintas di tanggul Kali Pepe hulu sisi selatan yang masuk wilayah Gondang, Manahan, Banjarsari, Solo, Rabu (26/9 - 2018). (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
17 November 2018 17:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Proses relokasi warga terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo tak berjalan semulus pengerjaan proyek fisiknya yang sudah hampir kelar.

Di saat proyek sudah mendekati selesai, puluhan warga yang dulunya tinggal di bantaran Kali Pepe hulu hingga kini belum juga membangun rumah baru.

Padahal mereka sudah menerima dana bantuan sosial (bansos) pembelian tanah dan pembangunan rumah dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo sejak Juli 2017 lalu. Dana bansos yang diberikan kepada warga senilai Rp34,2 juta/rumah.

Sekretaris Pokja Relokasi Warga Kelurahan Manahan, Tumino, mengatakan sekarang ada 40-an warga Manahan yang belum membangun rumah baru di lahan yang sudah dibeli Desa Tepisari, Polokarto, Sukoharjo.

Dia tidak mengetahui pasti penyebab 40-an warga itu belum juga membangun rumah baru di Tepisari. Yang jelas, kata Tumino, rata-rata warga Manahan terdampak proyek dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) masih mengantongi dana bansos hingga Rp12,8 juta yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun rumah.

Dana itu merupakan sisa dana bansos setelah mereka membeli tanah dan mengurus sertifikat tanah. Dia pun yakin jika ada niat, warga bisa membangun rumah baru dengan sisa bansos tersebut.

“Sebetulnya kalau ada niat warga pasti punya jalan keluar untuk membangun rumah baru. Tapi nyatanya sekarang baru ada sekitar 60-an rumah yang sudah jadi atau masih dalam proses pembangunan. Sementara 40-an kaveling di Tepisari masih kosong karena belum dibangun rumah,” kata Tumino saat diwawancarai Solopos.com, Jumat (16/11/2018).

Tumino menduga puluhan warga Manahan yang belum membangun rumah baru di Tepisari kini mengontrak rumah atau menyewa kamar indekos. Beberapa warga juga mungkin tinggal menumpang di tempat kerabat atau saudara.

Dia tak menampik salah satu alasan warga Manahan belum juga membangun rumah baru hingga kini karena dana bansos telah habis untuk keperluan lain, termasuk untuk membayar kontrakan dan indekos itu.

Dugaan itu semakin kuat mengingat warga diminta Pemkot untuk pindah lebih dulu dari bantaran sebelum rumah baru jadi. "Salah satu solusi yang kami tawarkan kepada warga yang tidak punya uang lagi untuk membangun rumah baru, ya mesti mengajukan pinjaman ke bank," terang Tumino.

Puluhan warga Nusukan yang terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe hulu) juga belum mulai membangun rumah baru di tanah yang telah dibeli. Hal itu dibenarkan Sekretaris Pokja Relokasi Warga Nusukan, Trihono, saat diwawancarai Solopos.com, Jumat.

Namun, dia mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah warga Nusukan yang belum membangun rumah baru. Dia belum keliling lagi memantau lokasi yang telah dibeli warga bantaran.

"Saya belum tahu kondisi warga terdampak proyek sekarang. Nanti kalau sudah ada data atau informasi, saya kabari. Sebulan ini saya belum sempat main ke tempat teman-teman di Kedunggupit, Boyolali," jelas Trihono.