Hujan Belum Konstan, Elevasi WGM Wonogiri Turun Lagi

Air WGM keluar melalui saluran hollow jet valve (HJV) dekat mulut saluran pintu spillway, Jumat (16/11 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
17 November 2018 07:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Elevasi atau tinggi muka air Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri yang sempat naik mencapai level standar sesuai pola operasional cenderung turun lagi lantaran hujan yang belum konstan.

Sebagaimana diinformasikan, Perum Jasa Tirta (PJT) I meningkatkan outflow atau air yang dikeluarkan dari WGM dari sebelumnya 2 m3/detik menjadi 13 m3/detik pada Jumat (16/11/2018) dini hari.

Data yang diperoleh Solopos.com dari Kantor Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III PJT I di Wonogiri, Jumat, peningkatan outflow dilakukan pukul 03.00 WIB. Saat itu elevasi tercatat 127,18 meter soerabaia haven vloed peil (shvp).

Elevasi tersebut naik dari dua hari sebelumnya. Pada Rabu (14/11/2018) pukul 12.00 WIB elevasi tercatat 127,14 meter shvp.

Beberapa lama setelah outflow ditingkatkan elevasi turun 1 cm shvp di posisi 127,17 meter shvp. Elevasi terus menurun hingga di posisi 127,15 meter shvp pada Jumat pukul 10.00 WIB.

Kondisi ini terjadi karena inflow atau air dari hulu yang masuk waduk tak sebanding dengan outflow. Inflow rata-rata harian tercatat 7,77 m3/detik atau jauh lebih kecil dari outflow.

Inflow masih kecil karena tak ada hujan beberapa hari terakhir. Kepala Sub Divisi Jasa ASA III PJT I, Didit Priambodo, mengatakan pelepasan air waduk dilakukan sesuai pola.

PJT melepas air WGM dengan debit 13 m3/detik pada Jumat dini hari sesuai Rencana Alokasi Tahunan (RAT) 2018/2019. Pelepasan dengan debit sebesar itu akan bertahan selama 15 hari ke depan (satu kali periode).

Namun, pengaturan tetap berpegang pada kondisi lapangan. PJT akan mengevaluasi setiap periode. Jika ke depan elevasi terus turun, PJT I akan mengambil langkah tertentu sesuai hasil evaluasi.

“Kalau RAT-nya tetap, tetapi akan ada evaluasi. Ini sesuai dengan RAAR [rencana alokasi air rinci]. Nah, RAAR ini dilakukan sesuai kondisi riil di lapangan. RAAR ini yang akan digunakan pegangan untuk operasionalnya,” kata Didit mewakili Kepala Divisi Jasa ASA III PJT I, Viari Djaja Singa.

Setelah outflow ditingkatkan dua saluran irigasi, yakni Saluran Induk Colo Timur dan Barat, teraliri air. Air yang masuk Colo Timur debitnya 7 m3/detik, sedangkan di Colo Barat 3 m3/detik.

Colo Timur melewati Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan sebagian kecil Ngawi, Jawa Timur. Sementara, Colo Barat dari Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, sebagian Boyolali.

Pantuan Solopos.com di Colo Barat yang melewati Sendang Ijo, Selogiri, Wonogiri, Jumat pukul 09.00 WIB, saluran irigasi tersebut masih kering. Menurut Didit, hal itu kemungkinan karena air dari WGM masih dalam perjalanan menuju Colo.

Dia menilai debit air yang masuk ke saluran irigasi induk terhitung kecil sehingga waktu perjalanan atau time travel lebih lama. Pengamatan Solopos.com di mulut pintu hollow jet valve (HJV) atau saluran tempat air WGM dikeluarkan Jumat itu, air keluar sangat deras.

Meski demikian kedalaman air yang mengalir di Sungai Bengawan Solo masih dangkal.