10 Jam Menuju Solo Anjing-Anjing Siap Santap, Apa Yang Terjadi?

Anjing/anjing siap santap (Bisnis/Nurul Hidayat)
19 November 2018 09:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Ribuan anjing-anjing siap santap didatangkan ke Solo tiap pekannya. Anjing siap santap itu dipasok dari Tasikmalaya dan Cirebon, Jawa Barat (Jabar).

Menempuh 10 jam perjalanan dari Jabar ke Solo, apa yang terjadi dengan anjing-anjing siap santap itu? Sudah 17 tahun, Wagino, 50, warga Kelurahan Ngembatpadas, Kecamatan Gemolong, Sragen, menjadi pengusaha penyedia daging anjing di area Solo.

Setiap pekan, tak kurang dari 100 ekor anjing dipasok ke sejumlah warung yang akrab disebut satai jamu itu. Seratus ekor adalah jumlah minimal agar tetap balik modal dan tidak rugi di biaya transportasi.

Anjing-anjing tersebut didapat dari wilayah Jawa Barat, utamanya Tasikmalaya dan Cirebon. Dia mengaku anjing-anjing itu sengaja diternak dan disuplai ke pengepul yang lantas sampai ke tangannya.

Perjalanan dilakoni Wagino menggunakan truk kepala kuning yang membutuhkan waktu sekitar 20 jam pergi-pulang. Sekali jalan Solo-Tasimalaya, Wagino harus menempuh jarak sekitar 360 kilometer (km).

Bila mengambil anjing ke Cirebon, jarak yang ditempuk sekitar 340 km. Wagino menganggap tidak ada yang salah jika anjing-anjing itu dimasukkan karung dan diikat mulutnya.

Dia menyebut bagian kepala tetap di luar sehingga masih bebas bernapas. Pakan dan minum pun tetap diberikan sepanjang perjalanan dari kota asal ke Solo.

Perlakuan itu, kata dia, sudah didapat anjing setelah ditangkap. Meski begitu tetap ada penyusutan bobot. ”Entah 300 gram atau 500 gram, bobot turun dari timbangan awal,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (15/11/2018).

Dia lantas menjual anjing senilai Rp25.000-Rp30.000 per kilogram atau mulai dari Rp250.000 per ekor. ”Di kampung sini ada belasan warga dengan pekerjaan yang sama. Kamis [15/11] saya baru antar [ke Solo]. Tidak pernah dibawa ke rumah, kami drop di salah satu lokasi, mereka yang ambil. Dibagi-bagi,” ujar dia.

Wagino mengatakan anjing didatangkan dari daerah Tasikmalaya atau Cirebon lantaran sudah tidak ada anjing lokal. Ada beberapa anjing liar dan jamaknya adalah anjing yang dipelihara.

Anjing peliharaan biasa digunakan untuk berburu hama, seperti tikus. Umurnya sekitar enam, tujuh bulan sampai satu tahun. Untuk yang umur satu tahun jarang.

”Bobot paling kecil 7 kilogram. Anjing kan umurnya cepat sekali tidak seperti kambing. Satu indukan bahkan bisa beranak 9 ekor. Sesudah itu tiga bulan kemudian bisa hamil lagi dan beranak lagi,” jelas Wagino.

Jenis dan ukuran dari anjing itu terkadang berpengaruh terhadap harga. Jenis anjing yang bisa berbobot di atas 10 kilogram, biasanya lebih diminati karena berdaging banyak.

Sebaliknya, jenis anjing ras kecil, kuantitas dagingnya lebih sedikit atau istilah dalam bahasa Jawanya, kurang babar. Dia mengklaim memiliki surat jalan dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan (Disnakan) setempat sehingga bisa membawanya sampai ke Solo.

”Kalau enggak ada ya susah, tho. Sudah dicegati [pintu masuk/keluar wilayah kabupaten/provinsi]. Ada surat saja, kami masih memberi uang rokok.”

Penyedia anjing lain, Sukamto, juga meyakini tak ada anjing curian di antara dagangannya. Hal itu dibuktikan dengan kondisi fisik sehat anjing-anjing itu saat diangkut ke Solo. Jika anjing itu curian, jamaknya sudah dalam kondisi tidak sehat atau bahkan diracun sebelum ditangkap.