Berkat UT Surakarta, Warga Talun Karanganyar Semakin Berdaya

Anggota Kelompok Usaha Mandiridi Dukuh Talun, Dusun Tengklik, RT 001/RW 006, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jateng menunjukkan cara pembuatan stik ubi, Kamis (22/11 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
24 November 2018 05:00 WIB Sri Sumi Handayani Solo Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Universitas Terbuka (UT) Surakarta meujudkan program pengabdian masyarakat di Dukuh Talun, Dusun Tengklik, RT 001/RW 006, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng). Di dukuh tersebut, sejumlah dosen UT Surakarta memberdayakan masyarakat dengan program-programnya.

Wujud pengabdian UT Surakarta di dukuh tersebut adalah dengan membentuk Kelompok Usaha Mandiri. Karena hasil pertanian di dukuh tersebut kebanyakan adalah ubi, maka setiap anggota kelompok kemudian diberi bantuan pelatihan, bahan, alat penggilingan, resep stik ubi, dan lain-lain kepada masing-masing anggota kelompok.

Pembentukan Kelompok Usaha Mandiri itu berawal pada 2015 lalu saat sejumlah dosen UT Surakarta yang tergabung dalam tim kegiatan pengabdian masyarakat dan dipimpin Sri Murni datang ke kampung.

Anggota Kelompok Usaha Mandiridi Dukuh Talun, Dusun Tengklik, RT 001/RW 006, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jateng menunjukkan cara pembuatan stik ubi, Kamis (22/11/2018). (Solopos-Sri Sumi Handayani)

Pada saat itu, warga Dukuh Talun rata-rata bekerja sebagai buruh tani, tukang kayu, buruh bangunan, pedagang sayur keliling, merawat ternak orang lain, dan lain-lain. Penghasilan mereka rata-rata hanya mencapai Rp25.000-Rp30.000 per hari kala itu.

Ketua Kelompok Usaha Mandiri, Sunaryo, menyampaikan Sri Murni menawarkan program tersebut kepada warga kala itu. Gayung bersambut dengan keinginan meningkatkan penghasilan, sebanyak 16 warga bergabung.

Berkat program dari UT Surakarta tersebut, penghasilan warga Dukuh Talun berhasil meningkat. "Hasil pertanian paling banyak ubi. Ubi besar dijual dan yang kecil atau sortir dijadikan pakan ternak. Nah ini [ubi sortir] diolah. Program itu saya tawarkan ke ibu-ibu PKK. Mereka mau mencoba. Sekarang penghasilan bersih ibu-ibu dari berjualan stik ubi Rp50.000 per hari," cerita Sunaryo saat berbincang di rumahnya, Kamis (22/11/2018).

Selama satu tahun, mereka menjajal resep hingga menemukan komposisi resep yang pas. Pendampingan dari UT Surakarta berlanjut pada 2018 dengan fokus pendampingan pada kemasan produk. Perguruan tinggi negeri yang berada di Jl. Raya Solo-Tawangmangu Km 9,5, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jateng itu kemudian memberikan bantuan alat timbang, selaer, kemasan, dan label.

Sunaryo menjelaskan produk dari Kelompok Usaha Mandiri itu kini bahkan sudah dipasarkan hingga luar Kabupaten Karanganyar. "Dijual ke pasar, dititipkan ke toko oleh-oleh, sekolah, bus pariwisata, keliling di Solo. Kami terima pesanan dari luar Karanganyar. Berawal dari ubi ungu saja jadi banyak produk sekarang. Sekarang enggak pakai ubi sortir tetapi ubi semua ukuran," jelasnya.

Bahkan, dua anggota kelompok sudah memiliki izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Mereka adalah Sulastri dan Wanti. Sulastri memasarkan produk di kios Terminal Wisata Mbangun Makutarama di Karangpandan setiap Sabtu dan Minggu. Dia bisa menjual 10 kg-50 kg stik ubi per hari. Sedangkan Wanti menjual stik ubi yang dikemas seharga Rp1.000 ke sekolah-sekolah. Per hari, ia bisa menjual 300 hingga 500 bungkus.

Kesadaran memiliki izin PIRT itu dipicu keinginan untuk meningkatkan kepercayaan pembeli. "Konsumen mau yang higienis. Enggak susah. Kami masuk ke DKK [Dinas Kesehatan Kabupaten] Kabupaten Karanganyar. Ikut penyuluhan, dapat sertifikat, lalu rumah disurvei. Dicek rumah, lantai, cara pembuatan, sumber air, sampah. Biar pembeli yakin higienis," tutur Sulastri.

Kedua ibu-ibu itu dahulu bekerja sebagai burun tani. Sekarang, dia memiliki dua pegawai untuk membantu membuat stik ubi ungu. Bahkan, Sulastri menjadi distributor stik ubi ungu.

Anggota Kelompok Usaha Mandiridi Dukuh Talun, Dusun Tengklik, RT 001/RW 006, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jateng menunjukkan cara pembuatan stik ubi, Kamis (22/11/2018). (Solopos-Sri Sumi Handayani)

Namun pemasaran stik ubi ungu tidak semulus yang dibayangkan. Sejumlah orang sempat nyinyir dan menuding stik ubi ungi menggunakan pewarna dan pengawet. "Enggak pakai sama [pengawet] sekali. La warna ungu kan asli dari ubi. Ini murni hanya pakai garam, mentega, dan gula pasir untuk perasa," jelas Wanti.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UT Surakarta, Sri Murni, menyampaikan bantuan program tersebut merupakan proram multiyears yang berjalan selama tiga tahun, yang dimulai pada 2015, 2018, dan rencananya berakhir pada 2019.

Program tahun ketiga adalah inovasi produk. Bukan hanya ubi ungu, singkong, talas saja tetapi merambah ke umbi-umbian lain. "Kami hanya memfasilitasi warga memanfaatkan potensi melimpah di Talun. Kami bantu menciptakan ikon baru Dukuh Talun. Jadi pertimbangan kami adalah bahan baku banyak, meningkatkan income warga, dan memanfaatkan waktu luang. Sasaran program adalah warga marginal bukan perkotaan," jelas Murni.

Kendala tahun pertama adalah membuka pasar. Sekarang, pasar sudah terbuka dan permintaan melimpah. Kendala tahun kedua adalah peningkatan kapasitas alat. Hal itu seiring dengan peningkatan permintaan terhadap produk.

Hal senada disampaikan Direktur UT Surakarta, Yulia Budiwati. Ia berharap program pengabdian masyarakat dapat dimanfaatkan warga secara maksimal. "Dosen punya kewjiban tridarma perguruan tinggi. Salah satunya pengabdian masyarakat. Selain ini ada stik tempe di Gemolong Sragen, hidroponik di Jebres Solo dan Sragen, susu kedelai di Tanon Sragen. Sifatnya multiyears atau tiga tahun. Harapan kami Dukuh Talun menjadi sentra kerajinan makanan," pungkas perempuan 55 tahun tersebut.