Solo Kota Kerajinan dan Kesenian Rakyat

Salah satu stan dalam acara Srawung Gayeng Soloborasi 2018 di Benteng Vastenburg Solo, Sabtu (24/11 - 2018). (Solopos/M.Ferri Setiawan)
24 November 2018 21:23 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Kota Solo akhirnya mengubah narasi sebagai city of craft and folk art (kota kerajinan dan kesenian rakyat) pada pengajuan UNESCO Creative City Network (UCCN) atau Jaringan Kota Kreatif UNESCO di 2019.

Sebelumnya sejak 2014, Solo berkonsep kota design (desain) bersama dengan Bandung yang justru masuk jaringan itu pada 2015. Sekretaris Bandung Creative City Forum (BCCF), Tita Larasati mengatakan Solo, Bandung, dan Pekalongan sama-sama mengajukan sebagai UCCN pada 2014.

Pekalongan dengan kategori city of craft and folk art masuk lebih dulu di 2014 yang disusul Bandung pada 2015. “Bandung juga mengubah narasi setelah dilakukan riset dan diskusi kelompok terarah berkali-kali. Konsep kami sebelumnya bukan desain. Pernah condong ke musik juga, Ternyata kami kuat di desain, sehingga akhirnya ditunjuk sebagai UCCN,” kata dia, dalam Diskusi Srawung Gayeng Soloborasi 2018 dan Pameran Ekonomi Kreatif di Beteng Vastenburg, Solo, Sabtu (24/11/2018).

Penunjukan sebagai UCCN, ucap Tita, berdampak positif bagi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Kembang. Mereka diundang ke berbagai negara untuk melakukan position personality sekaligus city branding. Imbasnya, pelaku ekraf terdorong membentuk dinamika kota ke arah lebih kreatif yang berdampak pada perbaikan ekonomi, pembangunan berkelanjutan, dan inklusi sosial.

“Dari situ kami memiliki jargon, people, place, ideas. Setiap irisannya berdaya. Inovasi wirausahanya ke arah sosial bukan lagi teknis. Kami bisa mendorong terciptanya ruang publik yang berdaya ekonomi. Tercatat sampai sekarang ada 250 program kerja yang sudah dilakukan komunitas ekraf Bandung yang bertemakan ruang publik, ruang terbuka hijau (RTH), heritage, dan lingkungan,” kata dia.

Ketua Komite Kota Kreatif Solo, Sutanto, mengatakan perubahan narasi itu berdasar pada produk seni, budaya, dan tradisi di Solo yang umurnya tak lagi puluhan, melainkan ratusan tahun. Kota Bengawan adalah pabrik manusia kreatif lewat pendidikan formal dan nonformal. Berbagai event seni, budaya, dan tradisi level nasional dan internasional rutin digelar setiap tahunnya.

“Tercatat ada 300an sanggar padahal ini baru lembaga pendidikan nonformalnya. Kita punya Institut Seni Indonesia (ISI) untuk pendidikan formal, karena itu narasi sebagai city of craft and folk art lebih pas dibanding kategori design,” ucap pemilik gelar doktoral dari Univesitas Bordeaux Prancis tersebut.

Perubahan narasi itu, kata dia, tak asal-asalan. Pasalnya, kategori itu harus dianggap kuat untuk mendorong pengentasan kemiskinan. Pada November hingga Desember 2018, Komite Kota Kreatif diwajibkan menyusun program dan kegiatan yang melibatkan pemerintah, kelompok, dan komunitas untuk terlibat dalam roda kreativitas city of craft and folk art.

Salah satunya adalah mematangkan konsep kota pertunjukan. Berikutnya, mendorong regulasi berupa peraturan daerah (Perda) atau peraturan wali kota (Perwali) untuk membantu pelaku kegiatan kreatif dalam berkegiatan.

“Juni 2019 akan ada annual meeting seluruh UCCN di dunia, setelah itu baru penjurian atau penilaiannya. Harapannya, kali ini Solo masuk menyusul Pekalongan dan Bandung,” kata Sutanto.

Selain Solo dan Bandung, sejumlah UCCN yang terpilih juga pernah melakukan perubahan kategori. Salah satunya, Kota Brasilia di Brazil sebelumnya mengajukan sebagai city of craft and folk art yang kemudian berubah menjadi city of design. Perubahan itu membuat mereka masuk UCCN. “Kuncinya memanfaatkan kreativitas untuk memecahkan permasalahan kota. Mana yang paling kuat dari konsep-konsep itulah yang dipilih.”