66 Kasus Leptospirosis di Klaten, 11 Meninggal Dunia

ilustrasi leptospirosis. (Solopos/Dok)
25 November 2018 19:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten mencatat per Oktober 2018, di Klaten terjadi 66 kasus Leptospirosis di mana 11 orang di antaranya meninggal dunia. Mengatasi hal itu, Dinkes membentuk Warga Siaga Leptospirosis (Wasis) hingga ke tingkat desa.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Klaten, dr. Anggit Budiyarto, mengatakan tingginya kasus Leptospirosis ini mengakibatkan posisi Klaten naik ke urutan dua dari sebelumnya posisi sembilan di tingkat Jawa Tengah. Oleh karena itu, perlu terobosan inovasi agar kasus dan angka kematian akibat Leptospirosis menurun. Salah satu faktor pemicunya adalah rendahnya pemahaman masyarakat soal Leptospirosis.

Salah satu inovasinya adalah kami bikin Warga Siaga Leptospirosis atau Wasis. Hari ini kami sosialisasikan dulu kepada seluruh kepala desa karena mereka adalah aktor penggerak masyarakat desa,” kata Anggit, saat ditemui Espos di kantornya, Jumat (23/11/2018).

Kali ini sebaran kasus Leptospirosis terjadi di 20 kecamatan di Klaten. Wilayah dengan jumlah kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Wedi dan Gantiwarno. Sedangkan, enam kecamatan yang tidak ada kasus Leptospirosis, meliputi Kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Kebonarum, Karanganom, Pedan, dan Karangnongko.

Enam kecamatan ini tahun lalu kena Leptospirosis. Artinya semua wilayah di Klaten pernah punya kasus yang sama,” urai Anggit.

Wasis bergerak secara berjenjang hingga kecamatan dan desa. Selain memperkuat pemahaman masyarakat soal Leptospirosis, kader-kader Wasis juga melakukan penanganan serentak dalam menangkap tikus rumahan menggunakan perangkap dan metode lain.

Leptospirosis biasanya terdapat dalam urine tikus dengan kondisi tanah yang becek. Lahan persawahan termasuk area berisiko tinggi. Anggit meminta masyarakat menghindari kontak dengan tanah yang becek. Jika tidak bisa, gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, dan alas kaki yang memadai. Tak hanya itu, masyarakat diminta membiasakan diri mencuci tangan pakai sabun seusai beraktivitas. “Cuci tangan pakai sabun ini terbukti efektif mengurangi kasus penyebaran penyakit menular.”

Ia menerangkan hasil riset Dinkes menemukan penanganan klinis untuk kasus suspect Leptospirosis sudsh tepat. Pasien biasanya langsung dirujuk ke rumah sakit dengan keterangan suspect Leptospirosis. Rumah sakit lantas melakukan pemeriksaan penunjang laboratorium di Dinas Kesehatan secara gratis.

Namun, yang belum tepat ada di masyarakat. Gejala seperti badan pegal-pegal, demam, perut tidak enak, mual, sering dianggap gejala biasa. Ini perlu pemahaman lebih lanjut. Kalau mata merah dan mungkin sudah kuning segera periksakan. Masyarakat kerap terlambat mendiagnosa secara mandiri. Kalau gejala tadi dirasakan, jangan dianggap biasa. Kalau negatif syukur, kalau positif ada penanganan dini,” imbau Anggit.