Asale Sendang Bejen Karanganyar Petilasan R.M. Said Atur Strategi Perangi Kompeni

Warga Dusun Dawe, Desa Mojoroto, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, melaksanakan bersih dusun di Sendang Bejen beberapa waktu lalu. (Solopos/Sri Sumi Handayani)
25 November 2018 08:00 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sejumlah warga Dusun Dawe, Desa Mojoroto, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, berkumpul di salah satu sudut dusun setempat pada Jumat (27/7/2018) lalu. Mereka menggelar bersih dusun di tempat yang dipercaya warga sebagai Petilasan Raden Mas Said, yakni Sendang Bejen.

Cerita yang dipercaya warga setempat secara turun temurun menyebutkan tempat itu menjadi saksi bisu perjuangan Raden Mas Said saat melawan penjajah di masa lalu. Kadus Dawe, Suratno, tersenyum simpul saat tiba-tiba mengingat masa kecil.

"Dulu di sini masih didominasi hutan. Pas kecil lewat sini itu hawanya singup. Isinya hanya pohon-pohon besar. Cerita dari dulu sampai sekarang masih diuri-uri supaya nanti cerita tentang Petilasan R.M. Said tidak hilang dan anak cucu masih mengingat. Sampai sekarang warga sekitar maupun orang dari luar Karanganyar ke sini untuk meditasi di sekitar sendang. Utamanya saat Suro," kata Suratno saat berbincang dengan solopos.com, Jumat (16/11/2018).

Dia melanjutkan cerita tentang sendang yang dipercaya menjadi tempat bersejarah saat R. M. Said berjuang melawan Belanda. Dasarnya adalah buku pemberian salah seorang pejabat di Kabupaten Karanganyar.

Menurut Suratno, pada buku itu tertulis R.M. Said, panglima perang saat itu, duduk di area yang saat ini menjadi Sendang Bejen. R.M. Said mengatur strategi untuk melawan Belanda.

Dia mengaku selama lima tahun terakhir berupaya menelusuri riwayat atau sejarah Petilasan R.M. Said. Hasilnya betul bahwa Sendang Bejen adalah Petilasan R.M. Said. Dia mengklaim ada dokumen yang membuktikan hal itu. Cerita lain menyebutkan tentang asal mula pohon nangka yang menaungi aliran air sendang. Pohon nangka yang saat ini sudah roboh itu dipercaya berumur ratusan tahun.

"Pada tahun 1743 selama kurang lebih lima tahun di sini. Pejuang itu memanfaatkan aliran air dari sumber alam. Hingga kini, air ini masih mengalir. Air tidak bisa keruh. Bahkan orang-orang suka minum langsung dari pancuran di sendang karena mereka meyakini bahwa kandungan mineral tinggi," tutur dia.

Orang-orang yang datang ke Sendang Bejen akan membawa oleh-oleh air dari sendang. Tentang aliran air sendang, Suratno memiliki cerita bahwa aliran air sendang dahulu sangat deras. Hal itu membuat warga yang mencari air kewalahan karena kelenting selalu pecah saat menadah air sendang.

Warga terdahulu mengatur aliran air sendang agar tidak terlalu deras. Dia mengklaim air sendang tidak akan surut meskipun kemarau. Sampai sekarang masih ada warga yang memanfaatkan air sendang itu.

"Orang percaya air sendang untuk obat. Tetapi saya ingatkan lagi bahwa kita hanya meminta kepada Allah," ujar dia.

Petilasan R. M. Said di Sendan Bejen masih rutin dikunjungi warga maupun sebagai tempat bersih dusun. Kegiatan wujud ucapan syukur atas rejeki yang melimpah. Salah satunya dilaksanakan setiap tahun sekali seusai panen padi pada musim tanam dua.

Warga menggelar syukuran menggunakan tumpeng komplet, yakni ingkung, lauk pauk, nasi gurih, sayur mayur, dan lain-lain. Ungkapan syukur kepada Allah yang dilaksanakan di tempat bersejarah. "Sekaligus nguri-uri kebudayaan Jawa dan leluhur. Melestarikan budaya yang sejak dulu sudah ada," ungkap dia.