Resah Sistem Zonasi, Orang Tua di Solo Memilih Sekolah Swasta

ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
26 November 2018 19:50 WIB Ayu Prawitasari Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Sejumlah orang tua di Kota Solo memilih sekolah swasta untuk anak mereka pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun depan lantaran resah dengan sistem zonasi.

Sistem zonasi berlaku untuk SD, SMP, hingga SMA. Salah satu orang tua siswa, Subagio, 41. Dia mendaftarkan anaknya lebih awal di sekolah swasta. Subagio resah dengan sistem zonasi yang diterapkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

“Sekolah sekarang sudah tak mementingkan anak itu pintar atau tidak,” ujarnya kepada reporter Solopos.com, Tamara Geraldine, Senin (26/11/2018) di SMP Batik Solo.

Subagio mendaftarkan anaknya lebih awal ke sekolah swasta supaya tidak terlalu mahal biayanya. “Mendaftar di gelombang awal supaya biaya tidak terlalu mahal,” ujarnya.

Laki-laki itu mengakui anaknya tak tertarik dengan dengan sekolah negeri. “Anak saya takut nasibnya seperti kakaknya, dibuang ke sekolah swasta. Padahal kakaknya juara kelas. Sebenarnya anak saya masih kelas VI SD, tetapi saya sudah mendaftarkannya sekolah,” ujarnya.

Warga Manahan, Bella Sofiyani, 34, mengatakan anaknya bersekolah di SMPN 2 Solo karena sistem zonasi. “Sebenarnya anak saya untuk pembelajaran biasa saja, pintar tidak, bodoh juga tidak. Tetapi karena sistem zonasi dan rumah saya dekat, jadi anak saya bisa masuk di sini [SMPN 2 Solo],” ujarnya.

Bella setuju dengan sistem zonasi karena dirinya bisa menjemput anaknya tak jauh dari rumah. “Kalau jemput anak tidak terlalu jauh,” ujar dia.

Wakil Kepala Bidang Kurikulum & Humas SMP Batik Solo, Ceket Palupi Suroso, mengatakan sistem zonasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan murid. “Dengan sistem zona ini kami tak bisa mengharapkan banyak siswa yang masuk. Tetapi sekolah swasta di sini belum terlalu diikutsertakan seperti sekolah negeri,” ujar dia.

Menurut Suroso, selama ini warga seperti belum tahu sistem zonasi. “Banyak warga sebenarnya yang belum mengetahui sistem ini, lebih disosialisasikan supaya orang tua tak kaget,” ujarnya.