Keset Karya Napi Sragen Diekspor ke Australia

Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham Sri Puguh Budi Utami melihat aktivitas napi di bengkel kerja LP Kelas IIA Sragen, Minggu (25/11 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
26 November 2018 10:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Sragen bersama Mutiara Handycraf Kebumen mengekspor 18.500 lembar keset berkarakter ke Australia, Senin (26/11/2018) ini.

Sebanyak 500 lembar keset di antaranya merupakan karya para narapidana (napi) dari LP Kelas IIA Sragen.

Ekspor keset buatan napi tersebut menjadikan LP Kelas IIA Sragen masuk menjadi LP ke-12 yang berhasil mengekspor produk napi ke luar negeri. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) mencatat ada 11 LP di luar Sragen yang juga mengekspor produk mereka ke luar negeri.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal (Dirjen) Pemasyarakatan Kemenkumham, Sri Puguh Budi Utami, saat melihat persiapan ekspor di LP Kelas IIA Sragen, Minggu (25/11/2018).

Sebelum mengecek persiapan di bengkel kerja, Utami sempat menyaksikan penandatanganan kerja sama atau memorandum of understanding (MoU) antara LP Sragen dengan tiga lembaga sebagai mitra kerja.

Ketiga lembaga itu yakni Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), BRI Cabang Sragen, dan Pusat Pemberdayaan Perempuan dan Anak Sragen. Utami juga menyerahkan produk keset buatan napi secara simbolis kepada owner Mutiara Handycraft Kebumen, Irma Suryati, yang juga hadir dalam acara itu.

“MoU tersebut pastinya untuk penguatan sinergi yang dibangun LP dan kemudian diformalkan. Dengan MoU itu masing-masing pihak bisa mengetahui hak dan kewajiban mereka," jelas Utami kepada wartawan.

Di Indonesia, jelas Utami, ada 24 LP dari total dari 522 LP/rutan yang sudah menjalin MoU dengan pihak luar itu. Namun dari 24 LP itu baru 11 LP yang berhasil ekspor ke luar negeri dan LP Sragen ini menjadi LP ke-12 yang ekspor ke luar negeri.

Di bengkel kerja itu, Utami melihat langsung proses pembuatan keset yang dilakukan per kelompok. Satu kelompok terdiri atas tiga orang.

Ada 12 napi yang dilibatkan dalam pembuatan keset dengan kualitas ekspor itu. Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati dan Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen Tatag Prabawanto pun sempat heran dengan hasil kerja para napi.

Mereka memuji produk napi yang rata-rata laki-laki itu karena jahitannya halus dengan motif yang unik. “Belum lama ini, kami melepas ekspor coco fiber hasil olahan sabut kelapa sawit sebanyak 10 ton ke Tiongkok dari para napi di LP Pohuwato, Gorontalo. Permintaan coco fiber itu dari Hong Kong dan Jerman baru bisa dipenuhi 10 ton. Jadi yang dieskpor itu juga produk olahan sampah,” ujar Utami.

Dia berencana mengembangkan produk coco fiber tersebut di daerah lain, yakni di Sumatra Selatan dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun Utami melihat kualitas sabut kelapa sawit itu berpengaruh pada hasil coco fibernya.

“LP lain yang sudah ekspor ada di Cirebon berupa bola dan kursi rotan. Ada lagi di LP Porong juga ekspor mebel ke Hong Kong dan Tiongkok,” tambahnya.

Kepala LP Kelas IIA Sragen, Yosef Benyamin Yembise, mengatakan total produksi keset selama sepekan terakhir sudah mencapai 500 lembar. Dia mengatakan keset-keset itu dibuat napi dengan model bervariasi sesuai keinginan pasar.

Owner Mutiara Handycraft Kebumen, Irma Suryati, berharap produk keset di LP Kelas IIA Sragen tersebut bisa menjadi contoh LP-LP lainnya di Indonesia. Dia berencana menggandeng seluruh LP di Indonesia untuk bisa memproduksi keset karena permintaan pasar di Australia masih terbuka lebar.

“Kami sudah melihat sendiri produk keset di LP ini. Sampai Minggu ini ada 500-an keset yang siap diekspor. Kami berencana kirim pada Senin. Mudah-mudahan sampai besok sudah ada tambahan. Jadi total keset yang kami kirim ke Australia ada 18.500 lembar. Yang 18.000 keset dari cluster-cluster mitra dan yang 500 keset dari LP Sragen,” tambahnya.