Kisah Inspiratif Dokter Solo Mengabdi di Kalimantan Utara

Christopher Adhisasmita Yandoyo (Istimewa)
27 November 2018 11:00 WIB Chelin Indra Sushmita Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Tenaga kesehatan merupakan sesuatu yang cukup langka di wilayah luar Pulau Jawa. Hal itu menjadi motivasi bagi seorang dokter asal Solo, Jawa Tengah (Jateng), Christopher Adhisasmita Yandoyo. Pria berusia 23 tahun itu kini tengah mengabdikan diri sebagai tenaga medis di Tarakan, Kalimantan Utara.

Selama satu tahun ke depan, dokter lulusan Universitas Trisakti, Jakarta, itu bakal mengedukasi tentang kesehatan di Tarakan, Kalimantan Utara. Pemuda yang akrab disapa dengan nama Christo tersebut tengah menjalani program internship dari Kementerian Kesehatan (Kemkes) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Kalimantan Utara.

Christo sengaja menjalani program internship di Tarakan, Kalimantan Utara, karena prihatin melihat minimnya tenaga medis. "Di Tarakan itu tenaga kesehatan minim. Edukasi tentang kesehatan juga masih rendah. Jadi, saya pilih menjalani program internship di sana biar dapat pengalaman lebih," kata Christo saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (26/11/2018), malam.

Christopher Adhisasmita Yandoyo saat mengisi penyuluhan di SMPN 1 Tarakan, Kalimantan Utara

Christo mengatakan, selama dua pekan menjalani program internship di Tarakan, Kalimantan Utara, dia bebas mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah. "Di sini bebas mengaplikasikan ilmu. Jadi, pengalamannya lebih banyak," sambung dia.

Saat ini, pria kelahiran Semarang, 6 Maret 1995, itu praktik di unit gawat darurat (UGD) Tarakan, Kalimantan Utara. Nantinya, dia juga akan mengabdikan diri di Puskesmas Gunung Lingkas, Tarakan, Kalimantan Utara. Bukan hanya mengobati orang sakit, dia juga memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.

"Selain di RSUD Tarakan, nanti juga bakal praktik di Puskesmas Gunung Lingkas. Enggak cuma mengobati orang sakit. Tapi, program internship ini lebih kepada pengabdian masyarakat. Jadi, sekitar 80 persen peserta diminta melayani dan mengedukasi masyarakat tentang kesehatan," tutup dia.

Alumnus SMAN 3 Solo, kelahiran 6 Maret 1995 ini memandang profesi dokter sebagai idealisme yang layak dipertahankan. Selepas program intership dia bersama teman-temannya akan mengikuti program dokter di wilayah-wilayah pedalaman Indonesia. "Profesi dokter itu bukan bisnis. Namun profesi berbagi dan bermanfaat buat sesama," ujar Christo yang mengagumi dr Lie Dharmawan ini.

Menurutnya, bisnis yang dijalankan seorang dokter harusnya bisnis yang berbeda atau di luar bidang kedokteran yang dikuasai. Sebagai contoh, saat ini dia merintis bisnis di luar bidang kedokteran dan tidak ada sangkut pautnya dengan bidang kedokteran. "Misalkan kita jadi investor saham. Ada banyak hal yang harus dipelajari misalkan soal prospek saham, visioner, manajemen keuangan dan lainnya," papar pria yang mengaku belum memikirkan pacaran ini.

Christo yang akan melanjutkan program dokter spesialis ini pun memberikan nasihat kepada para calon mahasiswa-calon mahasiswa yang akan memilih jurusan kedokteran. "Intinya jangan mudah menyerah, ulet, kerja keras, jangan baper dan tulus. Termasuk juga minta restu orang tua, karena biaya kuliah di kedokteran cukup mahal," pungkas Christo seraya menyebutkan angka ratusan juga untuk total biaya yang dikeluarkan selama kuliah di kedokteran.