Jangan Tembak Ribuan Burung Migran di Perempatan Panggung Solo

Hirundo rustica tytleri bertengger di pepohonan Perempatan Panggung, Jebres, Solo. (Kelompok Studi Kepak Sayap UNS Solo)
27 November 2018 16:30 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Masyarakat diminta untuk tidak mengganggu apalagi membunuh ribuan burung liar yang hinggap di Perempatan Panggung, Jebres, Solo, saat ini. Keberadaan mereka merupakan rangkaian dari siklus ekologis di berbagai belahan dunia, seperti Jepang, Korea, dan Rusia.

Indonesia menjadi satu dari sejumlah negara tropis yang menjadi tempat migrasi sementara burung layang-layang Asia atau Hirundo rustica itu. Burung yang sejatinya berbiak di belahan bumi utara itu menempuh ribuan kilometer untuk menghindari cuaca dingin ekstrem. Koordinator Kelompok Studi Kepak Sayap Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Aditya, mengatakan cuaca negara tropis Indonesia yang lebih hangat memungkinkan Barn swallow mendapat pasokan makanan, serangga, sementara di habitat asalnya tergerus salju.

Mahasiswa jurusan biologi itu mengatakan spesies burung Hirundo rustica terbagi menjadi enam sub-spesies, yakni rustica, tytleri, gutturalis, erythrogaster, savignii, dan transitiva. Dua sub-spesies yang migrasi ke Indonesia, adalah Tylteri dan Gutturalis.

“Mereka terbang tiga generasi, itulah kenapa bertahun-tahun selalu hinggap di lokasi yang sama. Turun-temurun mengenalkan anak-anaknya lokasi itu. Kenapa memilih Perempatan Panggung? Kemungkinan karena hangat sorotan lampu, ada tempat bertengger, dan lapang,” kata dia, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (26/11/2018).

Siklus terbang burung layang-layang Asia, ucap Aditya, terbagi menjadi beberapa gelombang. Pada September, kelompok pertama bakal tiba disusul kelompok berikutnya hingga Desember. Akhir tahun menjadi puncak ketibaan, yang berangsur kembali ke habitat asalnya pada Februari dan Maret saat cuaca menghangat.

“Ada yang sampai Australia dan menjadikan Indonesia tempat singgah. Tylteri dari Mongolia dan Siberia, sedang gutturalis dari Jepang dan Korea. Setelah kembali dari migrasi, mereka baru berbiak,” terang dia.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng, Suharman, menyampaikan berdasar pengamatan yang dilakukan, jumlah burung Hirundo rustica yang bermigrasi tahun ini lebih banyak dibanding sebelumnya. Penampakan itu sudah muncul sejak 2015. “Mulai muncul sekitar September, Oktober, dan berangsur berkurang sejak Februari sampai April. Jenis ini sama dengan yang muncul di Jogja,” kata dia.

Suharman menyebut pernah ada sejumlah warga yang terganggu dan berupaya mengusir dengan menembaki kawanan burung itu. Ia mengimbau hal itu tidak dilakukan, mengingat siklusnya yang sementara. “Mereka hanya migrasi dan akan kembali ke habitatnya. Kalau ditembak ya jangan. Kasihan, juga merusak ekosistem,” tutupnya.