Gapura Perbatasan Ngawen-Jatinom Klaten Diprotes karena Lokasi Tak Pas

Pekerja menggali lubang fondasi gapura perbatasan Kecamatan Ngawen dan Jatinom di depan Balai Desa Jemawan, Jatinom, Senin (26/11 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
27 November 2018 13:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pembangunan gapura perbatasan Kecamatan Ngawen dan Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, disoal. Selain gapura yang dinilai merusak estetika Balai Desa Jemawan, gapura itu juga tidak berada di perbatasan yang semestinya.

Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jemawan, Joko Purnomo, mengatakan banyak warga keberatan dengan pembangunan gapura yang dipasang di depan Balai Desa agak ke utara. Lokasi itu dinilai merusak estetika sebab membelakangi balai desa.

Warga juga menyebutkan lokasi itu bukan perbatasan yang tepat antara Ngawen dan Jatinom. “Lokasi gapura yang sekarang berada di tikungan dan turunan. Kalau ada gapura, akan menghalangi pandangan. Jadi malah membahayakan pengendara,” kata Joko saat ditemui Solopos.com di kantor KPUD Klaten, Senin (26/11/2018).

Joko menjelaskan perbatasan Ngawen-Jatinom ada di utara jembatan Kali Pepe. Lokasi itu memiliki trek lurus dan datar sehingga lebih aman bagi pengendara. Alternatif lain, gapura dibangun di sebelah utara Mapolsek Ngawen.

Lokasi itu menjadi perbatasan antara Desa Jemawan dan Desa Kahuman. Sedangkan kalau di depan balai desa itu rawan kecelakaan karena blind spot. Dia mengatakan harusnya sebelah timur dipapras supaya lebih lurus.

Lokasi lain yakni di utara Mapolsek Ngawen, perbatasan Jemawan dan Kahuman. “Banyak warga yang merasa keberatan dan minta [pembangunan] dihentikan. Selama perencanaan juga warga dan BPD tidak dilibatkan. Kalau posisi di sana [depan balai desa] banyak masyarakat enggak terima,” imbuh Joko.

Kepala Desa Jemawan, Muh. Yazid, mengatakan pembangunan gapura dilakukan atas permintaan dan saran Bupati Klaten. Ia menyetujui hal itu dengan pertimbangan berada di jalur maut. Di kawasan itu kerap terjadi kecelakaan dengan korban meninggal dunia.

Dengan dibangun gapura, ia berharap kawasan itu menjadi jalur lambat sehingga mengurangi risiko kecelakaan. “Memang belum saya sosialisaikan kepada warga sebab mulai perencanaan, penganggaran sampai pelaksanaan, desa bukan stakeholder-nya,” kata Yazid.

Ia mengaku selama ini hanya mendapatkan pemberitahuan dari Pemerintah Kecamatan Ngawen. Pembangunan gapura itu diajukan oleh Pemerintah Kecamatan Ngawen. Padahal, Desa Jemawan berada di Kecamatan Jatinom.

“Awalnya, gapura itu bertuliskan ‘selamat datang dan selamat jalan Kecamatan Ngawen.’ Lalu, kami minta selamat datang semua biar Jatinom ikut dicantumkan,” tutur Kades.

Camat Ngawen, Anang Widjatmoko, menerangkan pembangunan gapura itu proyek Dinas Perumahan Kawasan dan Permukiman (Disperwaskim), bukan di pemerintah kecamatan. Gapura itu hasil inisiasi Bupati yang menghendaki antara Ngawen dan Jatinom ada gapura perbatasan.

Ia mengaku menentukan lokasi gapura melalui sejumlah survei di Jemawan dan Ngawen yang diikuti kedua kepala desa. “Kami sudah koordinasi bersama Kades Jemawan, Kades Kahuman, dan Disperwaskim. Saya yang mengusulkan. Tujuannya baik untuk mengurangi kerawanan di sana,” ujar Anang.

Ia menerangkan jika dibangun gapura angka kecelakaan bisa menurun. Di sekitar lokasi akan dipasangi banyak penerangan. Saat lokasi terang, pengendara akan lebih berhati-hati saat melintas.

“Kalau estetika kan sedikit. Kalau bisa menyelamatkan banyak orang itu lebih baik. Prediksinya kalau ada gapura orang lebih hati-hati karena lokasi lebih terang. Selama ini kan gelap,” terang Anang.

Di sebelah timur, gapura dibangun di tanah milik perseorangan. Pemilik tanah dengan sukarela menyerahkan tanahnya seluas delapan meter persegi untuk gapura.

“Ini hanya miskomunikasi. Saya enggak tahu apakah kades sudah menyampaikan ke masyarakat. Kalau layout di desa itu kan di pojok balai desa bukan di depan persis,” ujar Anang.