Bak Zaman Jokowi, Ribuan Pedagang Pasar Legi Solo Dikirab ke Pasar Darurat

Pekerja memasang seng pada pembangunan lapak semi permanen pasar darurat Pasar Legi di Jl. Lumban Tobing, Setabelan, Banjarsari, Solo, Rabu (28/11/2018). - Nicolous Irawan
28 November 2018 20:40 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Pemindahan pedagang dengan cara dikirab mengingatkan model yang dilakukan Wali Kota Joko Widodo pada 2006. Saat itu, dia memindah PKL Banjarsari ke Pasar Klithikan Notoharjo di Semanggi melalui sebuah kirab meriah. 

Memindah pedagang Pasar Legi ke pasar darurat, Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo memilih Jumat Legi. Harapannya, pasar darurat itu ramai pembeli.

“Yang pasti Jumat Legi itu hari baik karena besoknya juga akhir pekan. Harapannya banyak pengunjung datang ke pasar," kata lelaki yang akrab disapa Rudy ketika dijumpai wartawan di Balai Kota Solo, Rabu (28/11/2018).

Pada 7 Desember tersebut, pedagang mulai beraktivitas dengan memanfaatkan bangunan pasar darurat.  Sebelum itu, para pedagang bisa menata dagangan di kios dan los pasar darurat.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Subagiyo, telah membagikan kios dan los pasar darurat. Ada 130 kios, 750 los, dan 700-an pedagang oprokan atau pelataran.  “Penempatan pedagang akan dilakukan dengan boyongan dari pasar lama ke darurat,” kata Subagiyo.

Boyongan akan diikuti seluruh bakul Pasar Legi. Rute kirab dimulai dari bangunan Pasar Legi sisi selatan kemudian menuju Jl. S. Parman dan berakhir di pasar darurat. Lokasi pasar darurat untuk kios berada di Jl. Sabang. Sedangkan 750 pedagang los akan menempati hanggar di halaman Pasar Legi. Bagi pedagang pelataran, Pemkot menyiapkan lokasi berjualan di sejumlah ruas jalan di sekitar pasar.

“Sekarang pembangunan pasar darurat tinggal penyempurnaan. Misalnya untuk lokasi pedagang los menunggu pemasangan instalasi listrik rampung dan pembuatan talang air,” kata Subagiyo.

Sejauh ini, rencana penempatan pedagang ke pasar darurat tak ada masalah. Dalam penempatan itu, Pemkot menetapkan zonasi bagi pedagang. Ada lima zonasi yang digunakan yakni zonasi kuliner, gerabahan, kelontong, sayur mayur, dan ikan atau daging. “Sejauh ini tidak ada komplain dari pedagang. Jika ada yang tidak berkenan bisa mengajukan keluhan atau usulan kepada lurah pasar atau melalui paguyuban untuk dicari solusinya," kata Subagiyo.

Sejalan dengan rencana penempatan pasar darurat, Pemkot mulai menyiapkan bentuk pembangunan pasar permanen. Revitalisasi Pasar Legi akan dikerjakan setelah dilakukan penghapusan aset terhadap bangunan tersebut. Pasar Legi tidak bisa dibangun karena bangunan masih tercatat di neraca aset Pemkot. “Prosesnya bangunan harus ditaksir. Setelah itu dilelangkan baru dilakukan pembongkaran. Saat pembongkaran itu, statusnya sudah dihapus dari neraca aset,” kata Subagiyo.

Setidaknya terdapat tiga tahapan proses lelang yang dikerjakan Pemkot. Yakni lelang penghapusan aset, lelang detail engineering design (DED) atau bestek pasar permanen dan lelang fisik bangunan.  Lelang penghapusan aset maupun DED diperkirakan membutuhkan waktu satu bulan. Selanjutnya Pemkot mempersiapkan lelang fisik pembangunan Pasar Legi. “Kami targetkan Januari bangunan lama sudah kami bongkar. Tinggal menunggu pembangunan,” kata Subagiyo.