Asyiknya Refreshing Sekaligus Mengenal Tanaman Jamu di Kidoland Nguter Sukoharjo

Dua anak bermain di kolam renang wisata alam Kidoland, Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sabtu (24/11 - 2018). (Solopos/Trianto Hery S.)
28 November 2018 07:05 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pilihan objek pariwisata di Sukoharjo boleh dibilang sedikit dibanding daerah tetangga seperti Solo, Wonogiri, maupun Klaten dan Gunungkidul, Provinsi DIY. Melalui dana desa, pemerintah desa setempat diharapkan berinovasi menggali potensi desa untuk kemajuan.

Salah satu dorongannya adalah menggali wisata alam yang digandrungi generasi milienal. Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, yang akhir-akhir ini dikenal dengan konflik warga terkait dugaan pencemaran udara dari pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) tak ketinggalan dalam menggali potensi wisata.

Masyarakat setempat yang dimotori pengusaha jamu Sabdo Palon memanfaatkan lahan pribadi seluas dua hektare untuk wahana bermain anak sekaligus lokasi wisata edukasi dan wisata air di Dukuh Plesan I atau Gg Kondom. Wisata alam ini diberi nama Kidoland dan baru dibuka Oktober 2018.

Pengelola Kidoland, Amirsan, saat berbincang dengan solopos.com di lokasi, Sabtu (24/11/2018), bercerita wisata alam dibangun untuk edukasi generasi muda Indonesia.

“Tanaman empon-empon dan tanaman bahan jamu ditanam di Kidoland. Di wisata alam pengunjung selain menikmati kolam renang, taman dan wahana anak juga bisa menikmati pijat ikan. Kami juga akan mengenalkan kepada pengunjung tentang pengalaman beternak dan bercocok tanam, khususnya kepada wisatawan anak sehingga dapat tumbuh dan menyatu dengan alam sekitar dan memberikan rasa cinta tanah air,” ujarnya.

 Karyawan menyirami tanaman di objek wisata alam Kidoland, Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sabtu (24/11/2018). (Solopos-Trianto Hery S.)

Foto: Karyawan menyirami tanaman di Kidoland, Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sabtu (24/11/2018). (Solopos-Trianto Hery S.)

Tiket masuk Kidolan sementara senilai Rp10.000 per orang. Lokasi parkir tersedia dengan tarif Rp2.000/sepeda motor dan Rp5.000/mobil.

“Lokasi dikonsep taman edukasi. Tanaman buah-buah seperti pisang, kates [pepaya], jeruk, tin, kelengkeng, durian, mahkota dewa, kunyit, jeruk purut, suruh, buah tien, sirsak, mangga, sukun, daun kelor, nanas tersedia. Demikian juga sayur-sayuran juga ditanam namun pengunjung belum bisa memetik sendiri buah-buahan ataupun sayur. Jika pengunjung merasa lelah bisa melepas penat di kolam renang dan arena perkecehan serta taman bunga,” beber dia.

Lebih lanjut dia, menyatakan tanaman herbal sengaja diunggulkan agar generasi pembuat jamu Indonesia tidak punah. Diakuinya, zaman now menjauhkan generasi penerus mengenal aneka tumbuh-tumbuhan berkhasiat di sekitar.

“Orang lebih mengenal obat untuk menyembuhkan penyakit tetapi jarang mengenal jamu. Padahal jamu itu minuman segar, bermanfaat untuk mencegah aneka penyakit. Rutin meminum jamu akan menambah awet muda dan kulit segar,” katanya.

Selain itu, di Kidoland juga tersedia kandang sapi dan pengolahan biogas dan pupuk organik. ‘Kotoran sapi sudah diproduksi menjadi biogas sehingga kebutuhan gas memasak tidak kebingungan karena setiap saat tersedia dari biogas,” ungkap doa

Seorang pengunjung Kidoland asal Celep, Nguter, Sukoharjo, Suharti, mengaku ingin refreshing di Kidoland.

“Kami ingin tahu Kidoland yang tersiar di medsos dan ingin mengajak anak-anak berwisata edukasi tetapi tiket masuk sudah naik. Dikabarkan Rp5.000 per orang ternyata sampai di lokasi tiket masuk menjadi Rp10.000 per orang. Untung rumah dekat sehingga cadangan uang saku masih ada,” kata dia.

Dia mengusulkan kepada pengelola agar setiap pohon diberi nama agar pengunjung mengetahui dan mengenalnya. “Juga ada keterangan manfaat dari pepohonan tersebut karena zaman now banyak generasi milenial tidak tahu nama dan manfaat pohon tersebut," ungkap dia.