Batal Dapat Insentif, Sebagian Honorer K2 Klaten Gigit Jari

Ilustrasi guru (Reuters/Brian Snyder)
28 November 2018 13:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sebagian tenaga honorer kategori II (K2) di wilayah Klaten terpaksa gigit jari lantaran tak jadi menerima insentif dari Pemkab Klaten seperti rekan-rekan mereka lainnya.

Pemkab Klaten menganggarkan dana untuk pemberian insentif bagi tenaga honorer K2 senilai Rp3,6 juta per orang dalam APBD 2018. Namun, tak semua honorer K2 mendapatkannya meski mereka sudah didata pada April lalu sebagai calon penerima insentif.

Penyerahan insentif digelar di Gedung Al Mabrur, Kecamatan Klaten Utara, Rabu (28/11/2018). Insentif diberikan kepada 1.190 tenaga honorer K2.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, mayoritas tenaga honorer K2 yang tak menerima insentif merupakan tenaga honorer yang lulus tes hasil seleksi CPNS jalur honorer K2 pada 2013-2014 lalu. Padahal, meski sudah lulus tes hingga kini tenaga honorer K2 berjumlah 296 orang itu tak kunjung diangkat menjadi CPNS.

Para tenaga honorer K2 itu ikut mengumpulkan berkas administrasi untuk pendataan usulan penerima insentif bersamaan dengan honorer K2 lainnya pada April lalu di wisma PGRI Klaten. Namun, hanya sekitar 30 tenaga honorer K2 lulus tes yang akhirnya menerima insentif.

Salah satu tenaga honorer K2, Esti, mengaku pekan lalu ada surat undangan disertai daftar penerima insentif melalui Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Karangdowo. Daftar penerima insentif itu berubah setelah ada surat ralat dari Dinas Pendidikan (Disdik) yang ia ketahui Selasa (27/11/2018).

“Saya sudah tanyakan ke dinas dan alasannya memang yang mendapat itu yang tidak lulus tes dulu. Sementara yang lulus tes [2013-2014] tidak dapat karena sudah diupayakan untuk menerima SK [pengangkatan CPNS]. Tetapi, sampai sekarang belum ada kejelasan soal nasib kami,” kata Esti saat berbincang dengan wartawan di Klaten, Selasa.

Meski kecewa, tenaga honorer yang bertugas di salah satu sekolah wilayah Kecamatan Karangdowo itu pasrah tak masuk daftar penerima insentif. Ia berharap SK pengangkatan menjadi CPNS benar-benar diurus secepatnya.

Tenaga honorer K2 lainnya, Eny, juga menyampaikan dari surat undangan yang beredar pekan lalu namanya masuk sebagai salah satu penerima insentif. “Memang dari Korwil kami surat undangan pertama itu belum sempat diedarkan. Tetapi, ada teman yang membaca nama yang sudah lulus tes CPNS dapat insentif. Tadi pagi ada surat undangan berisi ralat nama-nama yang menerima dan nama saya tidak ada,” jelas Eny.

Eny hanya pasrah tak masuk dalam daftar penerima insentif melalui APBD Perubahan 2018. “Kalau kecewa ya jelas sangat kecewa. Namanya juga sama-sama berjuang, dilihat dari segi honor kami termasuk minim yakni Rp200.000/bulan. Kemudian ada insentif bisa menjadi angin sejuk April lalu karena akan menerima Rp3,6 juta, ternyata meleset. Harapannya jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi. Sudah ada nama keluar kok tiba-tiba ditarik lagi,” ungkap honorer di salah satu sekolah wilayah Kecamatan Gantiwarno tersebut.