Insentif Cair, Honorer Klaten Siap Bayar Utang

Sekitar 1.190 tenaga honorer K2 berkumpul di gedung Al Mabrur, Klaten untuk menerima insentif melalui APBD Perubahan 2018, Rabu (28/11/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
28 November 2018 20:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Gedung Al Mabrur Kompleks RSI Klaten, Kecamatan Klaten Utara dipenuhi seribuan tenaga honorer kategori 2 (K2), Rabu (28/11/2018). Wajah mereka terlihat semringah menanti dimulainya acara penyerahan program peningkatan kesejahteraan atau insentif guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) kategori 2 (K2) atau honorer K2.

Seperti Umi, 48, salah satu tenaga honorer K2 asal Desa/Kecamatan Cawas. Duduk di kursi paling belakang, Umi menyambut temannya bernama Agus yang baru saja memasuki gedung.

Lungguh kene, mengko nak di-shooting ben apik. Aku tak jejer kowe naknu [Duduk di sini, nanti kalau terekam video biar kelihatan bagus. Saya pindah tempat duduk dekat kamu],” kata Umi sembari menggeser tempat duduknya di samping Agus.

Umi guru honorer yang mengajar murid SD wilayah Kecamatan Cawas selama 15 tahun terakhir. Selama belasan tahun mengajar, honor yang diterima Umi minim dan jauh dari nilai upah minimum kabupaten (UMK).

Cuma dikit. Malu kalau mau menyebutkan angkanya,” kata Umi saat ditanya Espos hingga ia menyebut nominal Rp200.000/bulan.

Nilai honor itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bagi Umi yang berstatus single parent untuk satu anak yang kini menempuh pendidikan di perguruan tinggi. “Ya mana cukup dengan honor segitu. Alhamdulillah ada bantuan-bantuan,” ungkapnya.

Ia mengatakan pemberian insentif melalui APBD Perubahan 2018 menjadi angin segar setelah insentif untuk tenaga honorer kali terakhir ia terima pada 2014. Sebelumnya, ada insentif untuk guru honorer sekitar Rp100.000/bulan. Hanya, sekitar empat tahun terakhir tak ada program serupa.

Umi sudah memiliki rencana memanfaatkan insentif senilai Rp3,6 juta tersebut. “Rencana mau digunakan untuk membayar utang. Anak sudah besar, sudah kuliah, sementara status saya masih WB [honorer] pasti punya utang,” kata dia.

Tenaga honorer lainnya, Slamet Sukirno, 54, juga menjadi salah satu penerima insentif senilai Rp3,6 juta. Slamet merupakan penjaga SDN 2 Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan berstatus honorer selama 20 tahun terakhir. Saban bulan ia menerima honor sekitar Rp300.000. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ia bersama istrinya berjualan di kantin sekolah. Soal rencana memanfaatkan uang insentif, Slamet mengaku masih berembuk dengan istrinya. Nggih mangkeh gampil [ya nanti gampang],” kata bapak tiga anak tersebut.

Topo, 48, juga menjadi salah satu tenaga honorer K2 yang menerima insentif melalui APBD Perubahan 2018. Selama 16 tahun terakhir, Topo menjadi penjaga sekolah di SDN 2 Cucukan, Kecamatan Prambanan. Sebulan, ia menerima honor Rp300.000. Topo memiliki tiga anak masing-masing bersekolah di tingkat SD, SMP, serta SMK. Untuk menutup kebutuhan hidup, Topo terkadang menjadi kuli bangunan. Aktivitas itu biasa ia lakukan setelah merampungkan tugas sehari-harinya yakni membersihkan sekolah serta menyiapkan minuman untuk guru selepas subuh hingga sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. “Kalau ada yang mengajak ya menjadi tukang batu di proyek bangunan,” tutur dia.

Topo menceritakan kali terakhir insentif ia terima pada 2014 lalu. Nilai insentif setiap bulan mulai dari Rp30.000 hingga Rp80.000 per bulan. Insentif itu diterima secara rapel enam bulan atau setahun sekali. “Setelah 2014 itu saya tidak tahu kok lama sekali tidak ada lagi. Ya ini dinanti-nantikan,” tutur dia.

Soal rencana pemanfaatan insentif yang diterima, Topo menuturkan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari terutama biaya sekolah ketiga anaknya. “Yang besar itu biaya sekolah. Sebulan itu bisa lebih dari Rp500.000,” ungkapnya.

Insentif diberikan pemkab kepada 1.190 tenaga honorer K2 di Klaten dengan anggaran dari APBD Perubahan 2018. Masing-masing penerima mendapatkan Rp3,6 juta secara utuh atau tanpa ada potongan pajak penghasilan (PPh). Insentif disalurkan melalui nomor rekening masing-masing honorer K2 setelah Disdik merampungkan proses administrasi dan berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) dan Bank Jateng sebagai bank penyalur.