Mebel Kualitas Ekspor Didiskon hingga 80% di Solo, Siapa Mau?

Pengunjung melihat produk-produk mebel kualitas ekspor pada acara pameran dan obral mebel di Rumah Kriya Banjarsari, Solo, Rabu (28/11 - 2018). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)
29 November 2018 19:05 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pameran dan obral mebel sisa ekspor digelar di Rumah Kriya Banjarsari, Solo, kembali dibuka, Rabu (28/11/2018). Pameran melibatkan 22 pengusaha mebel di Soloraya dan menawarkan produk kualitas ekspor dengan diskon harga mencapai 80%.

Pameran dan obral mebel tersebut digelar atas kerja sama Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Solo, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, Komunitas Industri Mebel dan Kerajinan Soloraya (Kimkas), serta didukung oleh Pemerintah Kota Solo.

Perwakilan Kimkas, Irawan Mintorogo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan kegiatan kali kedua. Sebelumnya, pameran telah digelar pada Mei lalu. Namun pada pelaksanaan kali ini, pameran dan obral mebel dilaksanakan dengan waktu lebih panjang serta jumlah pengusaha yang terlibat lebih banyak.

"Sebelumnya ada 15 pengusaha yang terlibat, sekarang ada 22 pengusaha. Kemudian untuk waktunya, dulu hanya tiga hari. Untuk pelaksanaan saat ini, pameran digelar lima hari, mulai 28 November hingga 2 Desember," kata dia kepada Solopos.com di sela-sela acara pembukaan pameran di Rumah Kriya Banjarsari, Rabu.

Irawan Mintorogo mengatakan produk yang ditawarkan pada pameran tersebut merupakan sisa ekspor yang kualitasnya sama dengan barang ekspor lainnya. Namun selama pameran, masyarakat bisa membelinya dengan harga di bawah harga asli.

"Harga yang pasti di bawah harga yang biasa kami jual. Diskon sampai 80%," terang dia.

Melihat dari pelaksanaan pameran Mei lalu, Irawan mengatakan pameran tersebut mendapat respons bagus dari masyarakat. Meski begitu pihaknya tidak menargetkan hasil penjualan. "Tidak ada target, yang penting stok dari teman-teman ini berkurang, jadi gudang longgar," terang dia.

Direktur IKM Pangan Barang Dari Kayu dan Furnitur Kementerian Perindustrian, Sri Yusnianti, yang menghadiri langsung pembukaan pameran tersebut mengatakan sektor industri saat ini memiliki peran sebagai penggerak dan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi terhadap perkembangan perekonomian di Indonesia. Pada 2017, sektor Industri nonmigas berperan sebesar 17,88%.

Dia juga mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun belakangan ini cukup baik, hingga mencatatkan pertumbuhan 5,17% pada triwulan III tahun 2018. Tingkat inflasi pun berada di kisaran 3,5%, atau cukup rendah jika dibandingkan sepuluh tahun terakhir yang rata-rata mencapai 5,6%.

Menurutnya hal itu salah satunya didorong oleh kontribusi pertumbuhan sektor industri pengolahan (nonmigas) yang tumbuh sebesar 5,14%.
Disebutkan, nilai ekspor industri pengolahan pada Oktober 2018 tercatat sebesar 11,59 miliar dolar Amerika Serikat.

Jumlah itu naik sebesar 6,40% dibandingkan September yang mencapai 10,89 miliar dolar Amerika Serikat. Kemudian jika dibandingkan dengan bulan Oktober 2017, kinerja ekspor industri pengolahan bulan Oktober 2018 naik sebesar 5,71%.