29 Anak Sragen Terinfeksi HIV/AIDS

Ilustrasi kanker (Solopos/Whisnupaksa Kridangkara)
29 November 2018 17:15 WIB Kurniawan Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sebanyak 29 anak di Kabupaten Sragen dilaporkan terinfeksi HIV/AIDS dalam beberapa tahun terakhir. Mereka terinfeksi penyakit berbahaya itu lantaran diturunkan dari orang tua mereka.

Data tersebut diperoleh Solopos.com dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sragen, Kamis (29/11/2018). Dari 29 anak terinfeksi HIV/AIDS itu, tiga anak di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Ketua Pelaksana KPA Sragen, Dedy Endriyatno, mengatakan penyebab anak-anak tersebut terinfeksi HIV/AIDS karena tertular dari orang tua mereka yang lebih dulu terinfeksi virus berbahaya itu.

Dia mengimbau masyarakat tidak malu memeriksakan diri atau mengikuti tes HIV/AIDS bila merasa terinfeksi virus itu. Dengan begitu bisa diketahui apakah yang bersangkutan sakit HIV/AIDS atau tidak.

Dengan tahu kondisi kesehatan masing-masing, potensi menularkan virus HIV/AIDS kepada keluarga bisa ditekan. "Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri perlu didorong," ujar dia.

Lebih jauh, Dedy mengungkapkan seks bebas atau berhubungan badan dengan berganti-ganti pasangan menjadi penyebab utama warga Sragen terinfeksi HIV/AIDS (ODHA) beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data KPA Sragen hingga September 2018 tercatat 942 warga Sragen terinfeksi HIV/AIDS. "Penyebab penularan HIV/AIDS paling sering karena perilaku seks bebas," tutur dia.

Dedy menyerukan semua pihak agar proaktif menanggulangi penyakit HIV/AIDS di Sragen. Salah satunya dengan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi langsung kepada masyarakat.

Tujuannya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit HIV/AIDS dan cara penularannya. Dalam hal itu Dedy mendorong peran pemdes untuk menganggarkan dana sosialisasi tahunan.

Koordinator Program KPA Sragen, Wahyudi, mengatakan masyarakat juga perlu diberi edukasi tentang cara memperlakukan ODHA. Jangan sampai mereka bersikap diskriminatif terhadap ODHA.

HIV/AIDS tidak menular hanya dengan berbincang dengan ODHA. "Jangan diskriminasikan ODHA. Justru beri mereka semangat dan motivasi untuk sembuh," sambung dia.