Telur BPNT di Selogiri Wonogiri Ada Belatungnya!

Pemilik ewarong di Krisak Kulon RT 001/RW 005, Singodutan, Selogiri, Wonogiri, Purwadi (kanan), mengembalikan 30 kg telur ke suplier di Kaliancar, Selogiri, Kamis (29/11 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
29 November 2018 16:40 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Pengelola warung gotong royong elektronik (ewarong) di Krisak Kulon RT 001/RW 005, Singodutan, Selogiri, Wonogiri, mendapati telur ayam yang sedianya untuk Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) tidak layak konsumsi.

Pengelola ewarong itu akhirnya mengembalikan sekitar 30 kg telur ayam yang didapatnya itu ke suplier. Telur-telur itu ada yang berbelatung, cangkang berjamur, dan terindikasi busuk karena mengeluarkan bau tak sedap.

Pengelola meminta ganti kepada suplier yakni Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Pengayom Petani Sejagad, Sidoharjo, Wonogiri, Kamis (29/11/2018).

Pemilik ewarong tersebut, Purwadi, memilah telur tak layak konsumsi itu. Pengamatan Solopos.com, telur-telur itu dihinggapi lalat. Bau tak sedap tercium saat Solopos.com mengamati lebih dekat.

Beberapa butir telur retak. Salah satu telur tampak berbelatung di bagian luar. Secara kasatmata telur tersebut masih utuh, tetapi di sekitarnya terdapat cairan kental berwarna kuning. Belatung hidup di cairan tersebut. Saat dipecah, bagian dalam telur juga berbelatung. Telur lainnya berjamur.

Purwadi mengatakan telur tak layak konsumsi itu ditemukan saat dia dan istrinya menyortir telur, Rabu (28/11/2018). Sebelumnya dia sudah curiga karena setelah telur sampai di rumah, Selasa (27/11/2018), banyak lalat yang hinggap.

Telur tersebut diambil dari gudang suplier di Kaliancar, Selogiri. Pagi harinya dia mengecek lebih jauh dan menemukan telur berbelatung dan banyak yang berjamur. Purwadi menemukan telur tak layak konsumsi sebanyak dua krat atau lebih kurang 30 kg dari total sekitar 130 kg.

Menurut dia, telur berbelatung disebabkan dua hal, yakni ada telur yang retak hingga isi telur keluar. Hal itu mengundang lalat. Cairan telur itu lalu jadi tempat lalat bertelur dan muncul belatung. Proses itu terjadi ketika telur disimpan lebih dari sepekan.

Penyebab lain yakni telur membusuk/kopyor karena tersimpan terlalu lama atau lebih dari dua pekan. Jamur di telur semakin memperkuat indikasi telur disimpan sudah cukup lama. Dia berharap kondisi ini menjadi bahan evaluasi bagi suplier agar ke depan tidak ada telur tak layak konsumsi yang disalurkan kepada ewarong.

“Telur yang tak layak konsumsi hanya sebagian kecil. Yang busuk begitu enggak mungkin saya berikan kepada KPM [keluarga penerima manfaat]. Saya melayani 145 KPM. Alhamdulillah telur bisa ditukar dengan yang bagus,” kata Purwadi.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Selogiri, Surono, mengaku mendapat keluhan serupa dari pengelola ewarong di Desa Pule dan Jaten. Namun, ewarong tak menukarkan telur karena telur yang berkondisi baik masih bisa mengaver kebutuhan KPM di masing-masing desa.

“Ini masih tahap awal, wajar kalau ada masalah. Ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan,” ucap Surono.

Petugas gudang BUMP PT Pengayom Tani Sejagad, Putra, membantah telur disimpan di gudang dalam tempo lama. Dia mengaku tak pernah menyetok telur.

Setelah telur sampai di gudang, perusahaan langsung menyalurkan ke ewarong. Menurut dia, kasus ada telur busuk hanya ditemukan di Singodutan. Selama ini penyaluran di kecamatan lain lancar tanpa ada kasus seperti itu.

“Saat mengantarkan telur, kalau ada yang pecah langsung kami ganti. Masalah ini akan menjadi catatan kami untuk bahan evaluasi. Kami profesional,” ucap Putra.

BPNT Wonogiri menyasar 74.740 KPM di 25 kecamatan. Dana bantuan diberikan Rp110.000/bulan dengan ditransfer melalui rekening Bank BNI.

BPNT itu untuk membeli beras dan telur. Beras dipenuhi oleh 20 gapoktan sebagai suplier. Sementara telur dipenuhi satu suplier. Di Wonogiri total ada 304 ewarong di 294 desa/kelurahan.

Penyaluran BPNT ke KPM dengan sistem paket dengan satu paket berisi 7,5 kg beras dan 15 butir telur seharga Rp110.000. Kebutuhan beras untuk 74.740 KPM mencapai 560.550 kg (560,55 ton) per bulan. Sedangkan telur butuh 1.121.100 butir per bulan.