UT Surakarta, Kampus Kekinian Berkonsep Cyber University

Kampus Universitas Terbuka Surakarta di di Jl. Raya Solo/Tawangmangu Km 9,5, Sapen, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jateng. (Solopos.com/Ginanjar Saputra)
01 Desember 2018 05:00 WIB Adv Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Dunia digital merupakan bagian dari Revolusi Industri 4.0 (keempat). Sebagai perguruan tinggi (PT), kampus memiliki peran penting membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Menghadapi revolusi industri keempat ini PT tentunya wajib mampu menjawab tantangan menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja di era globalisasi. Dalam menciptakan sumber daya yang inovatif dan adaptif terhadap teknologi, diperlukan penyesuaian sarana dan prasarana pembelajaran.

Misalnya, dalam hal teknologi informasi, internet, hingga komputerisasi. Sebagai salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia, Universitas Terbuka (UT) Surakarta yang kampusnya terletak di Jl. Raya Solo-Tawangmangu Km 9,5, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (jateng) merupakan salah satu pelopor kampus yang menerapkan model kuliah non-tatap muka atau kuliah jarak jauh.

Direktur UT Surakarta, Yulia Budiwati, mengatakan konsep perkuliahan ini merupakan konsep perkuliahan cyber university yang merupakan karakteristik dari revolusi industri 4.0.

Kalau dulunya mahasiswa kuliah di kelas, kini perkuliahan bisa dilakukan secara jarak jauh dengan menerapkan teknologi komunikasi dan informasi (TIK). Mahasiswa bisa kuliah dari rumah atau di tempat bekerja, artinya bisa kuliah di mana pun mahasiswa berada.

Yulia mengatakan merespons perkembangan revolusi industri 4.0, segala aspek kehidupan kampus tentu harus berevolusi. "Era revolusi industri 4.0 ini dicirikan dengan pembelajaran online dan digital dan pada akhir-akhir ini tentang konsep Internet of Things (IoT). Makanya sekarang kami lebih gencar untuk mengembangkan teknologi yang merupakan tuntutan dari era revolusi industri 4.0 untuk lebih memberikan kemudahan kepada mahasiswa mengakses semua proses selama kuliah" katanya.

Meski kuliah dilakukan secara virtual, bukan berarti mahasiswa UT Surakarta tidak bisa meningkatkan skill. Beberapa praktik/praktikum dilakukan melalui virtual. Namun mengingat belum semua masyarakat terbiasa dengan program virtual maka UT Surakarta juga menawarkan sistem blended learning, yaitu perpaduan antara sistem tatap muka dan online, sehingga mahasiswa sesekali harus datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan, ke laboratorium, dan bertemu tutor atau dosen.

"Kualitas pendidikan harus tetap kami unggulkan. Dalam pembelajaran selalu ada tim yang bertugas untuk memantau, baik untuk memantau kinerja mahasiswa maupun kinerja tutor," urai direktur UT Surakata tersebut.

Mahasiswa UT Surakarta juga didorong belajar secara mandiri. Cara belajar mandiri menghendaki mahasiswa untuk belajar atas prakarsa atau inisiatif sendiri. Belajar mandiri dapat dilakukan secara sendiri atau pun berkelompok.

UT Surakarta menyediakan bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri. Selain menggunakan bahan ajar yang disediakan oleh UT, mahasiswa juga dapat mengambil inisiatif untuk memanfaatkan bahan bacaan lain di perpustakaan atau dengan mengikuti tutorial, baik secara tatap muka maupun melalui internet, radio, dan televisi.

Selain itu, bisa juga memanfaatkan sumber belajar lain seperti artikel-artikel dari website, program pembelajaran multimedia, dan berdiskusi dengan tutor atau dosen.

Nah, dengan model pembelajaran tersebut, tentunya kuliah di UT Surakarta menjadi lebih asyik. UT Surakarta sebagai institusi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTTJJ) menawarkan dua konsep, yaitu konsep terbuka dan jarak jauh. Makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian.

Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat, termasuk Paket C). Sementara jarak jauh mengacu pada eksibilitas layanan yang disediakan oleh UT yang memudahkan mahasiswa mengakses pembelajaran dari mana pun dan kapan pun.

Konsep yang dikembangkan UT ini diharapkan dapat mendorong aksesbilitas masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi semakin terbuka dan merata. Lebih jauh lagi juga dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia yang saat ini masih berada pada kisaran angka atau di tempat bekerja, artinya bisa 31,5%, jauh di bawah negara-negara tetangga.