Potret Shelter Lentera Solo: Benteng Puluhan ADHA yang Tersingkir ke Makam

Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) bermain bersama aktivis peduli HIV/AIDS yang mengenakan kostum Superman di halaman Rumah ADHA Lentera Solo, Jumat (30/11 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
01 Desember 2018 22:45 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Stigma yang salah dari masyarakat membuat anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) tersingkir. Di Solo, sebuah selter menjadi harapan bagi anak-anak tak berdosa itu mendapatkan asuhan dan perlindungan--setelah sebelumnya kerap menghadapi pengusiran. Inilah potret kehidupan mereka di rumah sederhana itu.

Azan maghrib usai berkumandang saat Solopos.com bertandang ke Shelter ADHA di sudut areal Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Kecamatan Jebres, Solo, Rabu (28/11/2018) petang. Puger Mulyono yang baru pulang dari aktivitas langsung mengajak anak-anaknya salat.

Aktivis Yayasan Lentera Solo itu bahkan belum beristirahat. Selepas salat berjamaah, anak-anak itu kembali bermain. Di ruang multifungsi itu, layar televisi menjadi pusat perhatian, sementara beberapa yang lain membolak-balik buku pelajaran.

Di ruang sebelah yang berfungsi sebagai kamar, seorang pengasuh mencoba menidurkan bayi dua bulan. Di atas kasur lantai setebal 20 cm, pengasuh itu bersenandung. Tumpukan kasur lain diletakkan di tengah ruang.

Hampir satu tahun, puluhan ADHA tinggal di bangunan baru itu. Setelah sebelumnya ditolak di berbagai tempat, berada dalam kompleks permakaman seolah jadi jalan tengah. Pada awal 2013, Puger bersama rekannya, Yunus Prasetyo menginisiasi rumah singgah ADHA di Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan. Beberapa lama menetap, mereka diusir warga karena stigma.

Puger lalu membawa anak-anak itu ke rumah pribadinya di Kelurahan Kedunglumbu, Kecamatan Pasar Kliwon. Sama seperti sebelumnya, pengusiran kembali terjadi hingga mereka memutuskan mengontrak di sebuah rumah kecil di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan. Akan tetapi, di tempat itu drama pengusiran pun tak luput terjadi.

“Seperti disingkirkan di area makam, tapi kami bersyukur. Anak-anak bisa bebas bermain tanpa ketakutan, sejuk karena banyak pohon, dan berdampingan dengan para pahlawan. Mereka kan tidak akan protes dekat dengan ADHA,” ucapnya saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu.

Bangunan CSR dari Lotte Mart itu berkapasitas hanya untuk 20 anak. Namun, penghuninya telah bertambah menjadi 30 orang. Semakin banyak anak yang singgah atau dititipkan dari keluarganya.

“Paling kecil berumur dua bulan, ada lagi empat bulan, tujuh bulan, delapan bulan, satu tahun, 17 bulan, lalu tiga tahun, empat tahun, dan seterusnya sampai maksimal 13 tahun. Di atas itu sudah enggak ada,” urainya.

Puger mengatakan bayi berumur dua bulan itu dibawanya dari Bantul saat masih merah. Kedua orang tuanya meninggal dunia dan tak ada kerabat lain yang merawat. Di selter itu, bayi tersebut bisa mendapat kasih sayang dari ibu pengasuh, ayah, dan saudara-saudara. Meski harus mengonsumsi obat anti retroviral virus (ARV) sejak lahir, dia tampak sehat dan tak jauh beda dari bayi pada umumnya.

“Total ada tujuh pengasuh. Sebelumnya delapan, tapi yang satu mengundurkan diri. Kami juga mau ketambahan dua anak lagi dari Nganjuk dan Surabaya. Tapi semoga mereka enggak benar-benar harus dibawa ke sini dan dirawat keluarga. Selain karena selter sudah over kapasitas, kami berharap keluarga ada kesadaran untuk menerima,” ungkap Puger.

Harapan Puger itu bukan tanpa alasan. Masyarakat masih bersikap diskriminatif terhadap ADHA, termasuk kepada kerabat dekatnya. Stigma buruk bahwa HIV/AIDS menular dengan gampang membuat mereka terus melakukan penolakan. Kendati begitu, keberadaan shelter cukup membantu. Terlebih, Pemkot Solo memberi jatah obat ARV gratis kepada anak-anaknya.

“Yang cukup berat ya untuk biaya beli salep obat kulit. Harganya mahal. Juga biaya untuk tes Cluster Differentiation 4 (CD4). Tapi saya percaya selalu ada rezeki dari Allah.”

Puger mengaku akan terus berjuang memperpanjang harapan hidup anak-anaknya. Tak hanya melalui pemberian terapi ARV, tetapi juga kasih sayang. “Mereka bisa tersenyum senang, bisa bermain, di sekolah diterima guru-gurunya, itu sudah lebih dari cukup. Paling tidak sampai berumur belasan tahun,” ucapnya.

Saat ini, Puger sedang membangun sejumlah ruangan baru di belakang selter utama. Tiga kamar utama tak akan mampu menampung jumlah anak yang terus bertambah. Selain itu ia juga berkeinginan memberi kamar baru bagi anak yang beranjak remaja.