Telur BPNT Ada Belatungnya, Ini Tanggapan Dinsos Wonogiri

Dua pekerja menyiapkan telur di e-warong milik Endang Saryani, 50, di Josutan RT 002/RW 002, Kaliancar, Selogiri, Wonogiri, Jumat (30/11 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
01 Desember 2018 07:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Telur busuk bantuan pangan nontunai (BPNT) bisa sampai ke warung gotong royong elektronik (e-warong) diduga karena kesalahan teknis saat pengambilan.

Telur tak layak konsumsi itu hanya ditemukan di e-warong di Krisak Kulon, Singodutan, Selogiri, Wonogiri. Telur yang disalurkan ke e-warong lainnya dalam kondisi baik.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Wonogiri, Bagus Sudarsono, saat ditemui Solopos.com di kantornya di kawasan kota Wonogiri, Jumat (30/11/2018), mengaku belum mendapat informasi adanya temuan telur busuk yang diterima e-warong di Krisak Kulon.

Jika benar terjadi, dia menduga peristiwa itu akibat kesalahan teknis saat pengambilan. Dugaan itu semakin menguat karena petugas yang mengambil adalah pengelola e-warong.

Menurut Bagus, tidak menutup kemungkinan pemilik e-warong atau petugas gudang mengambil telur yang sudah disendirikan/disisihkan agar tidak dikeluarkan dari gudang karena tak layak konsumsi.

“Jika mekanismenya diambil sendiri oleh pengelola e-warong berarti perlu ada koordinasi dulu dengan penyedia barang atau petugas gudang penyimpanan sebelum telur diambil,” kata Bagus.

Dia melanjutkan berdasar monitoring, penyaluran beras dan telur BPNT di e-warong lain di berbagai kecamatan berjalan lancar dan tidak ada temuan telur busuk. Hal itu tak terlepas dari cara penyaluran, yakni melalui kantor kecamatan.

Bagus menjelaskan sesuai kesepakatan antara supplier atau penyedia barang, pengelola e-warong, dan pemerintah kecamatan, penyaluran telur dari penyedia barang dikirim ke kantor kecamatan terlebih dahulu.

Pengelola e-warong selanjutnya mengambil telur ke kantor kecamatan. Pengambilan telur disesuaikan data e-warong dan sasaran keluarga penerima manfaat (KPM) yang dilayani e-warong bersangkutan.

Saat pengambilan, petugas dan pengelola e-warong sama-sama memeriksa kondisi telur. Jika ada yang pecah, penyedia barang langsung menggantinya. Setiap e-warong diberi telur serep atau cadangan satu sampai dua kotak.

Jika ada telur yang tak layak konsumsi yang ditemukan saat telur sudah sampai e-warong, pemilik e-warong bisa menggantinya dengan telur serep itu. "Kalau ada telur yang diterima KPM kopyor misalnya, telur masih bisa ditukarkan ke e-warong dalam waktu dua kali 24 jam setelah barang diterima. Kemudahan diberikan karena ini misi sosial,” imbuh Bagus.

Mengenai realisasi penyaluran, dia memastikan seluruh penyaluran beras dan telur untuk seluruh e-warong rampung pada Jumat. Beras disalurkan 19 penyedia barang langsung ke e-warong.

Ada pula yang dropping ke kantor kecamatan terlebih dahulu lalu pengelola e-warong mengambilnya. Seluruh telur disalurkan satu penyedia barang, Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Pengayom Tani Sejagad.

Pengecekan Solopos.com di e-warong lain, yakni milik Endang Saryani, 50, di Kaliancar, Selogiri, telur dan beras dalam kondisi baik. Komoditas itu terdiri atas 2.970 butir telur dan 1.495 kg beras yang dialokasikan untuk 198 KPM.

Endang segera menyalurkannya ke KPM jika sudah menerima mesin electronic data capture (EDC) dari Bank BNI dan data KPM. Seperti diketahui, di Kota Sukses terdapat 74.740 KPM. Setiap KPM mendapat satu paket BPNT yang berisi 7,5 kg dan 15 butir telur/bulan. Nilai satu paket BPNT itu sama dengan dana bantuan yang diterima masing-masing KPM setiap bulan, yakni Rp110.000.