Lazismu Sragen Dorong Umat Giatkan Sedekah Produktif

Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir memotong pita saat peresmian unit usaha Aqiqahmu yang dikelola Lazismu Sragen di Masjid Al Falah Sragen, beberapa waktu lalu. (Istimewa/Lazismu Sragen)
02 Desember 2018 17:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sragen mendorong umat Islam di Bumi Sukowati menggiatkan sedekah produktif. Sedekah produktif merupakan sedekah berupa sebagian unit usaha atau hasil usaha untuk kepentingan umat dan akhirat.

Di sejumlah kota besar, sedekah produktif mulai menjadi tren ibadah. Dorongan tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus Lazismu Sragen, Ikhwanushoffa, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (30/11/2018) lalu.

Ikhwan mengungkapkan di beberapa daerah, seperti Batang dan Tegal lebih tenar menggunakan istilah wakaf produktif. Dia mengungkapkan di salah satu Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di wilayah Tegal, wakaf produktif menjadi gaya hidup.

“Kalau di Sragen istilahnya bukan wakaf tetapi lebih tepatnya sekedah. Dalam pengelolaan dana ZIS [zakat, infak, dan sedekah] itu tidak ada istilah wakaf. Kalau ada wakaf, dalam pelaporannya masuk ke klaisifikasi infak atau sedekah. Sebenarnya, Geprek Group sejak 2011 sudah memulai dengan sedekah produktif ke Lazismu Sragen dengan menyedekahkan Rp1.000 per ekor ayam yang dipotong. Pola itulah yang kami kembangkan ke depan,” ujar Ikhwan.

Selain itu, Geprek Group belakangan juga menyedekahkan unit usaha Aqiqahmu sebagai unit usaha yang dikelola amil Lazismu Sragen. Dengan pendekatan sedekah produktif ternyata perkembangan bisnis Geprek Group juga tumbuh pesat sampai sekarang.

Ikhwan menyebut di daerah lain sedekah produktif bisa berupa sebagian kecil dari unit usaha tetapi rutin. Dia mengatakan di Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu memiliki tiga unit minimarket dari wakaf produktif.

“Selain itu ada yang sedekah produktif berupa unit usaha SPBU [stasiun pengisian bahan bakar umum] dan minimarket. Tetapi sedekah produktif tidak harus besar. Ada petani yang sedekah produktif dari hasil panennya. Ada pula yang punya 100 pohon jati kemudian satu pohon jadi disedekahkan untuk umat. Ada pula perusahaan airline yang menyedekahkan satu unit seat di pesawat untuk umat. Agen perjalanan juga bisa menyediakan satu seat bagi umat yang ingin umrah dan seterusnya,” ujarnya.

Ikhwan menjelaskan selama ini wakaf cenderung berupa tanah dan sedekah cenderung berupa uang atau dana. Dia menyebut sedekah produktif merupakan pendekatan baru bagi masyarakat yang ingin bersedekah dalam bentuk unit usaha.

Ikhwan ingin meniru model yang dikembangkan di salah satu PRM di Tegal dan Pondok Pesantren Tazaka Batang.