Malam Hari Ala Malioboro di Citywalk Slamet Riyadi Solo, Kenapa Tidak?

Lalu lintas di Jl. Slamet RIyadi Solo. (Solopos/Dok)
03 Desember 2018 10:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggagas kawasan citywalk Jl. Slamet Riyadi disulap ala Malioboro, Yogyakarta, di malam hari.

Selain sebagai upaya menghidupkan kawasan citywalk di malam hari, konsep tersebut diharapkan mendongkrak pusat bisnis di sisi selatan jalan utama Kota Solo itu.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan semula citywalk Jl. Slamet Riyadi dibangun pemkot untuk memberikan ruang bagi pejalan kaki. Kawasan pedestrian ini pun diklaim sebagai yang terpanjang di Indonesia.

Namun keberadaan citywalk selama ini kurang dimanfaatkan oleh para pejalan kaki. "Tidak lebih 100 orang jalan-jalan setiap hari di citywalk, kecuali saat Car Free Day [CFD] yang memanfaatkan bisa ribuan orang," kata Rudy saat akrab Wali Kota ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu (2/12/2018).

Tak hanya itu citywalk di malam hari juga belum termanfaatkan. Bahkan pada beberapa kasus ada yang menggunakan lokasi itu sebagai tempat berpacaran. Rudy khawatir kawasan itu digunakan sebagai tempat transaksi narkoba karena minim penerangan.

Karenanya, Pemkot melakukan berbagai upaya untuk menghidupkan kawasan citywalk. Salah satunya dengan menata ulang kawasan tersebut.

"Sekarang citywalk sudah jauh lebih terbuka. Bangunan-bangunan toko di sana juga sudah terlihat dari jalan raya. Sekarang tinggal ditambah penerangannya biar lebih terang," katanya.

Perbaikan citywalk dikerjakan Pemkot dari Purwosari sampai Gladak. Tanaman di sepanjang kawasan citywalk juga sudah tertata. Dengan kondisi ini, Rudy menggagas menghidupkan citywalk pada malam hari.

Konsepnya dibuat ala Malioboro Yogyakarta. Pemkot akan menempatkan pedagang suvenir di sepanjang citywalk. Selain pedagang suvenir, Rudy juga mempersilakan pelaku seni untuk tampil di sepanjang area pejalan kaki tersebut.

"Apalagi kalau Solo is Solo [mural] sudah merata di seluruh Jl. Slamet Riyadi pasti akan menambah keindahan. Citywalk enggak akan kumuh seperti dulu," katanya.

Rudy akan memberikan pemahaman kepada masyarakat soal penggunaan citywalk. Selama ini masih kerap ada pelanggaran kendaraan bermotor masuk ke area citywalk.

Kedepan besi yang menutup jalan masuk citywalk akan dihilangkan. Sebagai gantinya, petugas linmas akan dikerahkan di setiap titik untuk menghalau kendaraan yang berusaha masuk.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Solo Endah Sitaresmi Suryandari mengatakan penataan taman dilakukan di jalur citywalk Jl. Slamet Riyadi. Penataan ulang taman di jantung kota itu mendesak sekaligus untuk mempercantik wajah Kota Solo.

"Konsepnya sama seperti depan Loji Gandrung [rumah dinas Wali Kota]. Ketinggian taman tidak akan jauh berbeda dengan jalan raya Slamet Riyadi,” kata Sita sapaan akrabnya.

Sita mengatakan kondisi taman selama ini lebih tinggi dari jalan raya. Selain itu kondisi taman tidak tertata rapi. Beberapa tanaman rusak karena terinjak-injak, serta kondisinya semrawut plus remang-remang disaat malam hari. Dengan kondisi ini penataan ulang taman sisi selatan Jl. Slamet Riyadi sangat diperlukan.

Selain taman, Pemkot juga memperbaiki drainase citywalk tersebut. Drainase dilebarkan menjadi dua meter dari sebelumnya 80 sentimeter.

“Lebar drainase ditambah 1,5 meter sehingga daya tampung airnya lebih maksimal," katanya.

Tahun ini, Pemkot mengalokasikan anggaran Rp4 miliar untuk proyek drainase sekaligus penataan taman citywalk penggalan Gladak hingga timur Nonongan. Proyek tersebut ditargetkan rampung akhir tahun ini.

Menurutnya tingginya sedimentasi drainase citywalk membuat daya tampung air semakin berkurang. Dengan kondisi ini diperlukan pembenahan drainase agar memaksimalkan daya tampung. Pembenahan drainase itu bertahap sejak tahun lalu menyesuaikan ketersediaan anggaran.

“Tahun depan kami harapkan sudah selesai semuanya. Tapi tergantung anggarannya,” katanya.