Naskah Kuno Perpustakaan Masjid Agung Solo Disimpan di Kardus

Kardus-kardus berisi naskah kuno dan buku-bulu koleksi perpustakaan Masjid Agung untuk sementara disimpan di ruang kosong pengurus Remaja Masjid Agung, Kamis (29/11 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
03 Desember 2018 11:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ratusan naskah kuno koleksi perpustakaan Masjid Agung Solo selama tiga bulan terakhir hanya disimpan di dalam kardus. Hal itu dilakukan lantaran gedung perpustakaan sedang direnovasi.

Sejak Agustus lalu 350-an naskah kuno tak lagi dipajang di rak. Sekretaris Takmir Masjid Agung Solo, Abdul Basid, menyadari ratusan naskah kuno koleksi perpustakaan Masjid Agung menjadi lebih rawan rusak ketika disimpan di dalam kardus.

Apalagi kardus itu hanya diletakkan dengan cara ditumpuk di ruangan kosong di timur gedung perpustakaan dan poliklinik Masjid Agung. Ratusan naskah kuno bertulisan aksara Jawa-Arab itu tepatnya disimpan di ruang pengurus Remaja Masjid Agung Solo (Risma).

Basid mengungkapkan Takmir Masjid Agung terpaksa menyimpan naskah kuno di dalam kardus di ruang pengurus Risma karena tak punya pilihan lain. Takmir masjid agung tak punya tempat lebih baik lagi untuk menyimpan maupun memajang sekitar 350 naskah kuno cetak dan delapan manuskrip berusia puluhan tahun hingga ratusan tahun tersebut.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Kamis (29/11/2018) pagi, ruang pengurus Risma termasuk ruangan yang tertutup. Udara dari luar hanya bisa masuk melalui lubang ventilasi kecil dan lewat celah-celah pintu kaca.

Saat itu, ruang pengurus Risma lebih tepat dikatakan sebagai gudang. Terdapat cukup banyak barang tak terpakai atau barang bekas diletakkan di sekitar kardus, seperti kipas angin, meja bekas, dan banner.

"Kami dari dulu ingin membuat ruang khusus untuk menyimpan dan memajang naskah kuno agar tidak mudah rusak. Tapi untuk menyediakan semua itu, kami jelas membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dengan kata lain, kami perlu adanya bantuan dari pihak luar untuk merealisasikan penyediaan tempat penyimpanan maupun tempat display naskah kuno," kata Basid saat diwawancara Solopos.com, Jumat (30/11/2018).

Selain pembangunan tempat penyimpanan dan pameran naskah kuno yang sesuai standar Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Takmir Masjid Agung Solo kini juga menginginkan adanya program restorasi serta digitalisasi naskah kuno koleksi perpustakaan Masjid Agung.

Tapi Basid lagi-lagi menyebut takmir Masjid Agung belum sanggup jika harus merestorasi hingga melakukan digitaliasi secara mandiri. Mereka butuh bantuan dari pihak luar karena tak memiliki cukup dana dan sumber daya manusia (SDM) ahli.

Dia menyebut takmir Masjid Agung pernah dibantu Perpusnas yang menerjunkan tim untuk merestorasi naskah kuno koleksi Masjid Agung pada 2015. Basid menyesalkan program itu tak berlanjut lagi hingga sekarang.

Padahal masih ada banyak naskah kuno yang belum direstorasi dan digitalisasi. "Bantuan program restorasi dan digitaliasai naskah kuno masih kami butuhkan untuk menjaga keselamatan naskah peninggalan masa lampau itu. Misalnya, naskah kuno setelah digitalisasi bakal menjadi lebih awet. Para pengunjung tidak perlu lagi menyentuh secara langsung apabila hendak membaca atau mengkaji naskah kuno. Pengunjung tinggal lihat naskah di komputer," jelas Basid.

Petugas Perpustakaan Masjid Agung Solo, M. Zufa Syahrani, menyebut perpustakan Masjid Agung total memiliki koleksi naskah kuno sebanyak 455 buku. Dari jumlah itu, baru 105 naskah kuno yang telah direstorasi.

Sedangkan 350 naskah kuno lainnya belum direstorasi apalagi didigitalisasi. Oleh sebab itu, dia pun membatasi masyarakat yang ingin mengakses naskah kuno koleksi perpustakaan Masjid Agung.

Zufa tidak ingin naskah kuno itu rusak setelah dipinjam masyarakat atau pengunjung. Dia pun berharap adanya program restorasi untuk memperbaiki fisik naskah kuno dan program digitalisasi untuk memudahkan pengunjung mengakses naskah kuno.