Dibikin ala Malioboro, Citywalk Solo Jangan Sampai Kumuh

Citywalk di Jl. Slamet Riyadi Solo di Gendengan, Senin (3/12). - Nicolous Irawan
03 Desember 2018 21:44 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

 Solopos.com, SOLO— Sebagian pelaku usaha mendukung gagasan tersebut. Bahkan mereka menilai usaha Pemkot menjadikan citywalk ala Malioboro bisa mendongkrak pusat bisnis di kawasan tersebut. Sebaliknya sebagian pelaku usaha memandang gagasan itu tidak tepat karena akan membuat kawasan citywalk menjadi kumuh.

Pemilik Toko Alat Tulis Kantor (ATK) Merah Putih di Kauman, Nelli, kurang setuju citywalk dijadikan seperti Malioboro saat malam hari.

Selain mempertimbangkan sisi keamanan, dia mengkhawatirkan citywalk menjadi kumuh. “Pemkot harus mempertimbangkan penataan yang bagus. Jangan sampai asal menempatkan pedagang, lalu jadi kumuh. Juga keamanannya, ini harus dipertimbangkan lagi,” katanya.   

Hal senada disampaikan pemilik toko ban di Jl. Slamet Riyadi, Ny. Hadi. Dia kurang sependapat dengan rencana Pemkot menyulap citywalk menjadi Malioboronya Kota Solo. Dia khawatir keamanan tokonya saat malam hari.

“Kalau malam hari yang mau jaga keamanan sini siapa? Karena selama ini toko buka tidak sampai malam hari,” kata Ny. Hadi.

Sementara itu, pelaku usaha lainnya menyambut positif rencana itu. Mereka menganggap menjadikan citywalk Jl. Slamet Riyadi sebagai tempat berjualan PKL pada malam hari akan meramaikan pusat bisnis di kawasan tersebut. Mereka menilai kawasan citywalk pada malam hari sepi dan remang-remang.

“Kalau memang dijadikan seperti Malioboro saya setuju karena nanti tambah ramai,” kata Lestari, pengelola Toko Gethuk Semar di Jl. Slamet Riyadi, Kauman.

Kalau demikian, Lestari akan membuka toko hingga malam hari. Selama ini, toko oleh-oleh tersebut hanya beroperasi pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. “Kalau malam di sini sepi, jadi memang kami buka hanya sampai sore hari,” kata Lestari.

Pemilik Toko Bunga Purworedjo, Tri Widaryatmi, menyambut baik rencana tersebut. Dia dan pelaku usaha lainnya menilai jika ditata, kawasan citywalk pada malam hari akan lebih ramai dibandingkan sekarang. “Jelas akan ramai sekali kalau memang benar itu [citywalk dikonsep  ala Malioboro] direalisasikan,” kata Tri Widaryatmi.

Para pelaku usaha juga memberikan apresiasi kepada Pemkot yang menata kawasan citywalk jauh lebih baik. Toko-toko di kawasan citywalk sisi selatan kini lebih terlihat dari jalan raya. Sebelumnya, citywalk tertutup pepohonan dan tidak terlihat dari jalan utama Kota Solo tersebut.

Kawasan citywalk itu akan mengakomodasi pedagang suvenir. Selain itu, pekerja seni juga bisa tampil di kawasan citywalk tersebut.

Pemkot harus memastikan kawasan itu jangan sampai terkesan kumuh. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Sondakan, Albicia Hamzah, mengatakan penataan citywalk menurutnya bagus asal tidak menimbulkan kesan kumuh. Albicia mengatakan pedagang yang berjualan juga harus disesuaikan dengan klasifikasi. "Contohnya di bagian sini [depan Purwosari] untuk berjualan baju, depan Solo Grand Mall untuk berjualan craft, dan lainnya," kata lelaki yang akrab disapa Albi.

Pendiri Difa Shop, Heru Sasongko, berharap para difabel dilibatkan dan diajak berjualan di area citywalk untuk pemberdayaan mereka. "Yang penting difabel mendapat kuota untuk berjualan. Kalau enggak dapat tempat kan kasihan," kata Heru.

Heru mengatakan selama ini produk para difabel belum mampu bersaing di masyarakat. "Karya-karya para difabel ini juga tidak kalah bagus," kata Heru. (Ratih Kartika)